Para peserta Diklat Peningkatan Kapasitas Tokoh Perempuan PKS Jawa Timur didorong tidak berhenti pada peningkatan kapasitas diri, tetapi mampu menjadi pelopor kebaikan di tengah keluarga dan masyarakat.
Dorongan tersebut disampaikan Ketua Bipeka DPW PKS Jawa Timur, Nurul Arba’ati, saat penutupan rangkaian Diklat Peningkatan Kapasitas Tokoh Perempuan PKS Jilid 3 di Kantor DPTW PKS Jatim, Sabtu (3/10/2026).
Nurul mengatakan, diklat yang telah berlangsung dalam tiga jilid tersebut bukan sekadar agenda formalitas organisasi.
Peserta yang hadir diharapkan benar-benar membawa hasil pembelajaran untuk meningkatkan kualitas diri dan memberikan dampak positif di lingkungan masing-masing.
“Diklat ini bukan agenda formalitas. Kita yang hadir di sini adalah tokoh perempuan, atau calon tokoh perempuan. Harapannya setelah mengikuti diklat ini, kita menjadi perempuan yang kokoh dalam nilai dan unggul dalam aksi,” ujar Nurul.
Menurutnya, ketokohan perempuan tidak cukup hanya ditunjukkan melalui pengetahuan maupun pemahaman nilai.
Hal tersebut harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan kemanfaatan bagi orang lain.
Nurul mengajak para peserta untuk pulang dari diklat dengan semangat baru. Mereka diharapkan mampu menjadi pelopor kebaikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun ruang pengabdian lainnya.
“Kerja kita adalah menebarkan kebaikan di sekitar kita. Kerja ikhlas, kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas,” katanya.

Ia menambahkan, menjadi tokoh perempuan juga berarti terus meningkatkan kualitas diri. Karena itu, peserta diharapkan tidak berhenti belajar setelah rangkaian diklat selesai, tetapi terus mengembangkan kapasitas dan memperluas kontribusi.
Sementara itu, Ketua DPW PKS Jawa Timur, Bagus Prasetia Lelana, mengatakan perempuan memiliki posisi penting dalam menjaga ketahanan keluarga sekaligus menghadirkan kontribusi di tengah masyarakat.
Menurut Bagus, perempuan PKS perlu memiliki keteguhan nilai, integritas, serta kemampuan merespons berbagai persoalan yang muncul di masyarakat.
“Tokoh perempuan PKS senantiasa harus setia pada nilai-nilai keislaman, etika, integritas, dan penguatan ketahanan keluarga di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman,” ujar Bagus.
Ia juga menekankan pentingnya mengubah kapasitas menjadi aksi.
Menurutnya, kader perempuan tidak cukup hanya memiliki gagasan, tetapi harus mampu merespons persoalan masyarakat dan menghadirkan solusi nyata.
“Unggul dalam aksi artinya kita tidak boleh hanya jago berwacana. Kita harus siaga merespons persoalan masyarakat dan berani tampil membawa solusi yang nyata,” katanya.
Bagus menyebut ruang kontribusi perempuan sangat luas, mulai dari keluarga, pendidikan, ekonomi, perlindungan perempuan dan anak, kegiatan sosial hingga kepemimpinan publik.
Karena itu, ia berharap rangkaian diklat yang telah berjalan tiga jilid tersebut dapat melahirkan lebih banyak tokoh perempuan yang siap mengambil peran di berbagai bidang.

“Harapannya tokoh perempuan kita, baik yang nanti menjadi anggota dewan maupun pimpinan daerah, bisa lahir dari acara diklat ini,” tuturnya.
Nurul menegaskan, keberhasilan diklat bukan diukur dari sertifikat yang diperoleh peserta, melainkan dari perubahan dan kontribusi yang dilakukan setelah kembali ke lingkungan masing-masing.
“Kalau pulang dari sini malah bingung, itu yang harus kita ikhtiarkan. Pekerjaan kita adalah memperbaiki diri untuk benar-benar memiliki kualitas sebagai perempuan PKS,” ujar Nurul.
Dengan berakhirnya jilid ketiga, rangkaian Diklat Peningkatan Kapasitas Tokoh Perempuan PKS Jatim diharapkan menjadi bekal bagi para peserta untuk terus belajar, memperkuat nilai, dan menghadirkan manfaat nyata sebagai pelopor kebaikan di tengah masyarakat.{}









