Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) diingatkan agar tetap menjaga idealisme di tengah dinamika politik yang sarat kepentingan dan pragmatisme.
Realitas politik memang menuntut kemampuan bernegosiasi dan membangun jaringan, tetapi nilai-nilai perjuangan tidak boleh ditinggalkan.
Pesan tersebut disampaikan Rusli Effendy, Ketua BPD 1 yang meliputi Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep. saat memberikan arahan dalam kegiatan Kemah Bela Negara (Kembara) M1 Zona 1 DPW PKS Jawa Timur di kawasan Coban Rondo, Kabupaten Malang, 16-18 Oktober 2026.
Menurut Rusli, Kembara bukan sekadar kegiatan perkemahan dan pelatihan fisik. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembinaan kader untuk memperkuat keimanan, menyegarkan kembali idealisme, menyamakan visi, serta membangun semangat perjuangan bersama.

Ia mengingatkan bahwa kader perlu memahami perbedaan antara idealisme yang dibangun dalam proses pembinaan dengan realitas yang dihadapi ketika terjun langsung ke dunia politik.
“Di dalam pembinaan, kita menanamkan idealisme. Tetapi ketika masuk ke lapangan, kita berhadapan dengan realitas, negosiasi, jaringan, dan berbagai kepentingan. Jangan sampai kita larut dalam pragmatisme dan melupakan idealisme yang selama ini kita bangun,” pesan Rusli.
Rusli menegaskan, pembinaan kader tidak boleh berhenti pada pembentukan pribadi yang sekadar mengikuti arahan pembimbing. Proses tersebut harus melahirkan kader yang percaya diri, memiliki kapasitas, mampu mengambil peran, dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat.
Setiap kader, baik yang menduduki jabatan struktural maupun yang tidak, memiliki ruang kontribusi. Kader dapat mengambil peran melalui pelayanan di lingkungan keluarga, aktivitas sosial, maupun keterlibatan dalam kegiatan organisasi.
Ia mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat tidak hanya dibangun melalui komunikasi politik, tetapi juga melalui pengalaman nyata ketika masyarakat merasakan manfaat dari kehadiran dan perilaku para kader.
Karena itu, nilai-nilai kebaikan perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, masyarakat dapat mengenal nilai perjuangan melalui tindakan, bukan semata-mata melalui slogan atau pernyataan.{}









