Suasana Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) tingkat DPW PKS Jawa Timur yang digelar Ahad (1/3/2026) mendadak haru. Salahseorang peserta tunanetra melantunkan ayat-ayat suci dengan hafalan yang kuat dan suara yang tenang.
Namanya Harianto, 57 tahun, asal Kota Madiun. Sejak lahir ia tidak bisa melihat dunia dengan mata. Namun ia membuktikan, keterbatasan penglihatan tak pernah membatasi cahaya Al-Qur’an di dalam hatinya.
Harianto telah menghafal 11 juz Al-Qur’an. Ia menyelesaikan 10 juz lebih setengah, ditambah juz 30. Semua dihafalkannya melalui mushaf braille dan murotal yang ia dengarkan berulang-ulang.
“Kalau orang yang bisa melihat, cukup bawa satu mushaf 30 juz. Karena mushafnya kecil bisa dikantongi. Kalau saya pakai Quran braille satu juz itu satu buku tebal dan besar. Jadi kalau 30 juz bisa satu becak. Maka saya pikir, lebih baik dimasukkan ke kepala saja, supaya ringan dibawa,” ujarnya ringan.
MHQ tingkat wilayah ini diikuti para juara dari 38 DPD PKS kabupaten/kota se-Jawa Timur. Mereka adalah perwakilan terbaik dari daerah masing-masing.
Namun kehadiran Harianto menjadi energi tersendiri dalam kompetisi tersebut.
Ia mengaku tak pernah terpikir mengikuti lomba. Baginya, menghafal Al-Qur’an adalah kebutuhan pribadi, bentuk syukur atas hidup yang Allah titipkan.
“Saya hanya ingin dekat dengan Al-Qur’an. Itu saja,” katanya lirih.
Sehari-hari, Harianto mengajar Al-Qur’an kepada karyawan di sebuah perusahaan di Madiun. Ia juga aktif mengikuti perkembangan teknologi dengan bantuan fitur suara di telepon genggamnya. Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk tertinggal.
Momen paling menggetarkan terjadi saat sesi penilaian. Salah satu penguji dari Biro Al-Qur’an BKAP DPW PKS Jawa Timur, Komari, mengaku tak kuasa menahan air mata.
“Bacaan beliau sangat bagus, hafalannya kuat. Ini bukan hanya soal lomba, tapi pelajaran besar untuk kita semua. Kalau beliau yang memiliki keterbatasan saja bisa menghafal 11 juz, apa alasan kita yang sehat untuk tidak dekat dengan Al-Qur’an?” tuturnya.
Di tengah derasnya aktivitas dan distraksi zaman, kisah Harianto menjadi pengingat bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an bukan soal fasilitas, melainkan soal tekad dan kesungguhan.
Ia pun memiliki target besar: menyelesaikan 30 juz. “InsyaAllah. Mohon doanya. Saya akan berusaha sekuat kemampuan saya,” katanya mantap.
Di akhir perbincangan, Harianto menitipkan pesan sederhana bagi mereka yang masih diberi penglihatan sempurna.
“Bersyukurlah. Gunakan nikmat itu untuk membaca dan menghafal. Kalau kami yang harus memakai alat bantu saja bisa, apalagi yang sudah dimudahkan,” pesannya.
Harianto mungkin tak pernah melihat huruf-huruf Al-Qur’an seperti kebanyakan orang. Namun di ajang MHQ PKS Jatim itu, ia menunjukkan bahwa cahaya wahyu tak membutuhkan mata untuk bersinar, cukup hati yang bersedia menerima dan menjaga.{}









