Ketua DPW PKS Jawa Timur, Bagus Prasetia Lelana, menghadiri sidang terbuka promosi doktor Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, di Universitas Airlangga, Kamis (30/4/2026). Kehadiran Bagus menjadi bentuk dukungan atas capaian akademik kader sekaligus penguatan kualitas kepemimpinan berbasis ilmu.
Reni Astuti resmi menyandang gelar Doktor setelah menyelesaikan studi S3 Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) yang ditempuh sejak September 2022. Dalam ujian terbuka tersebut, ia dinyatakan lulus cumlaude dengan IPK 3,92.
Ketua DPW PKS Jatim, Bagus Prasetia Lelana, menyampaikan apresiasi atas pencapaian tersebut. Ia berharap ilmu yang diperoleh Reni dapat memberi dampak luas, tidak hanya bagi partai tetapi juga bagi pembangunan bangsa.
“Saya mengucapkan selamat kepada Reni Astuti yang hari ini telah meraih gelar doktor. Mudah-mudahan ilmunya semakin bermanfaat, khususnya bagi perkembangan Partai Keadilan Sejahtera di Jawa Timur maupun secara umum di Indonesia,” ujarnya.
Dalam disertasinya, Reni mengangkat tema kepemimpinan transaksional pada anggota DPRD yang berhasil terpilih tiga periode berturut-turut (hattrick). Ia menyoroti fenomena kemenangan beruntun yang kerap terjadi, namun belum banyak diteliti dari sisi keberlanjutan kepemimpinan.

Menurut Reni, konsep “transaksional” yang selama ini sering dipersepsikan negatif ternyata memiliki dimensi baru. Ia menemukan bahwa keberhasilan anggota dewan terpilih berulang kali lebih banyak ditopang oleh apa yang disebut sebagai “investasi sosial”.
“Transaksi yang terjadi bukan soal uang, melainkan kedekatan dengan konstituen, pemenuhan aspirasi, serta pembangunan relasi jangka panjang,” jelasnya usai sidang.
Lebih jauh, penelitian tersebut juga mengungkap bahwa hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat tidak lagi bersifat hierarkis, melainkan cenderung egaliter dan timbal balik. Temuan ini dinilai penting dalam memperkuat kualitas demokrasi di Indonesia.
Reni berharap hasil penelitiannya dapat memberikan kontribusi praktis bagi dunia politik, sekaligus mengubah persepsi publik bahwa politik tidak selalu identik dengan praktik materialistik.
“Investasi sosial jauh lebih berdampak pada kualitas demokrasi dan pembangunan daerah. Saya juga ingin meyakinkan generasi muda bahwa politik tetap menjadi ruang pengabdian yang bermakna,” ungkapnya.
Kehadiran Bagus dalam sidang doktoral ini sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara dunia akademik dan praktik politik, guna melahirkan pemimpin yang tidak hanya populer, tetapi juga berkompeten dan berintegritas.{}









