Presiden Almuzammil Yusuf menegaskan pentingnya meritokrasi dan kualitas kepemimpinan di tengah tantangan demokrasi modern yang kerap didominasi oleh popularitas semata.
Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Daerah (Bimtekda) PKS Jawa Timur pada Senin (20/4/2026).
Dalam arahannya, Muzammil mengingatkan bahwa demokrasi yang hanya bertumpu pada suara dan popularitas tanpa mempertimbangkan kualitas akan melahirkan kepemimpinan yang lemah.
Ia mencontohkan sejumlah negara yang mampu bertahan kuat karena mengedepankan meritokrasi dalam memilih pemimpin.
“Demokrasi hari ini menghadirkan tantangan ketika hanya diukur dari popularitas, bukan kualitas. Padahal, kepemimpinan yang kuat lahir dari sistem yang menjunjung meritokrasi,” ujarnya.
Menurutnya, partai kader seperti PKS memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menghadirkan pemimpin yang tidak hanya elektoral, tetapi juga memiliki kapasitas, integritas, dan kemampuan menyuarakan aspirasi publik secara utuh.
Ia menekankan bahwa tugas kader dan pejabat publik PKS tidak berhenti pada memenangkan suara dalam pemilu. Lebih dari itu, mereka harus mampu menangkap, memahami, dan menyuarakan kebutuhan masyarakat secara tepat.
“Jangan hanya mampu mengumpulkan suara untuk mendapatkan kursi, tetapi harus mampu menyuarakan hati publik dan menghadirkan solusi,” tegas di depan ratusan anggota legeslatif PKS di Jawa Timur.
Muzammil juga mendorong para legislator PKS untuk membiasakan pengambilan keputusan berbasis kajian dan masukan yang mendalam. Ia menyebut pentingnya budaya collective genius atau kecerdasan kolektif dalam setiap kebijakan dan pernyataan publik.
“Sebagai pejabat publik, biasakan mendapatkan masukan yang komprehensif sebelum berbicara atau mengambil keputusan. Ini bagian dari kualitas kepemimpinan yang harus kita bangun,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga etika komunikasi di ruang publik. Menurutnya, kesalahan dalam memilih diksi dapat memicu polemik, meskipun substansi yang disampaikan memiliki niat baik.
Dalam konteks yang lebih luas, Muzammil menilai bahwa penguatan kualitas kepemimpinan menjadi kunci bagi keberlanjutan peran partai politik, termasuk PKS, di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, termasuk era digital dan meningkatnya peran generasi muda dalam politik.
Ia pun mengajak seluruh kader PKS, khususnya anggota legeslatif, khususnya di Jawa Timur, untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperkuat integritas, serta menjaga kedekatan dengan masyarakat sebagai fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik.
“Partai kader harus melahirkan pemimpin yang tidak hanya dikenal, tetapi juga berkualitas dan mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.{}









