Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKS Muhammad Kholid membagikan kisah perjuangan relawan PKS menembus wilayah yang terisolir akibat bencana. Dengan berjalan kaki selama dua hari dua malam sambil membawa bantuan makanan, para relawan tersebut berupaya memastikan warga yang terputus aksesnya tetap mendapatkan pertolongan.
Kisah itu disampaikan Kholid saat memberikan pembekalan kepada peserta Pelatihan Relawan Kemanusiaan dan Bela Negara yang digelar DPP PKS di Tulungagung, Sabtu (22/8/2026).
Kholid menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi wilayah terdampak bencana di Sumatera Barat. Saat itu, ia bertanya langsung kepada Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mengenai daerah yang mengalami dampak paling parah.
“Saya tanya kepada Pak Gubernur, daerah mana yang paling parah dan korbannya paling banyak?” kata Kholid.
Mahyeldi kemudian menyampaikan bahwa salah satu daerah di Kabupaten Agam mengalami dampak sangat parah. Banjir bandang menyebabkan korban jiwa, rumah warga hancur, sementara akses menuju lokasi terputus.
Kholid kemudian menanyakan apakah dirinya bisa langsung menuju lokasi tersebut. Namun, menurut dia, Mahyeldi menjelaskan bahwa wilayah itu sangat sulit dijangkau.
“Pak Gubernur menjawab, Mas Sekjen, itu daerah yang sulit dijangkau. Jalur darat ke sana terputus. Hampir semuanya terputus. Gelap, lampu mati, air juga susah,” tutur Kholid.
Dalam kondisi tersebut, bantuan ke wilayah terisolir praktis hanya bisa dikirim melalui jalur udara.
“Bantuan bagaimana caranya ke sana? Jalur udara,” ujarnya.
Namun Kholid kemudian menerima laporan yang membuatnya terkejut. Di tengah keterisolasian wilayah tersebut, ternyata ada kader PKS yang berhasil menembus lokasi.
“Saya bertanya, apakah DPW Sumatera Barat punya helikopter? Kok bisa sampai ke daerah terisolir?” kata Kholid.
Jawabannya justru membuat Kholid terdiam. Relawan PKS tersebut ternyata tidak menggunakan helikopter.
Mereka berjalan kaki selama dua hari dua malam, menembus medan yang sulit sambil membawa bantuan makanan dan kebutuhan pokok untuk warga yang terdampak bencana.
“Ternyata ada kader PKS membawa bantuan sembako dan sebagainya dengan berjalan dua hari dua malam sampai ke lokasi,” ungkapnya.
Bagi Kholid, perjalanan tersebut bukan sekadar perjuangan fisik. Di balik langkah panjang para relawan itu ada kepedulian terhadap warga yang sedang berada dalam kondisi paling sulit.
Ia pun meminta para peserta pelatihan untuk memahami bahwa menjadi relawan kemanusiaan berarti bersedia hadir ketika orang lain mungkin memilih untuk menjauh karena situasi yang berbahaya dan penuh keterbatasan.
Kholid menekankan bahwa kerja kemanusiaan harus dilandasi niat yang tulus. Bantuan kepada korban bencana, menurutnya, tidak boleh dihitung berdasarkan keuntungan politik yang mungkin diperoleh.
“Saya sampaikan kepada kader-kader PKS yang berjuang di daerah bencana, niatkan itu sebagai ibadah terbaik kepada Allah SWT,” tegasnya.
Ia mengingatkan, jika bantuan diberikan dengan harapan mendapatkan dukungan politik, maka semangat kemanusiaan justru akan kehilangan maknanya.
Sebaliknya, ketika relawan hadir karena panggilan kemanusiaan dan rasa persaudaraan sebagai sesama anak bangsa, maka setiap langkah menjadi bagian dari pengabdian.
“Kalau kita hadir karena panggilan kemanusiaan, panggilan sebagai sesama saudara sebangsa dan setanah air, insyaallah akan menghadirkan keberkahan,” katanya.
Kholid juga mengutip pesan Al-Qur’an bahwa menyelamatkan satu nyawa memiliki nilai yang sangat besar. Karena itu, ia meminta para peserta pelatihan menempatkan tugas kemanusiaan sebagai amanah yang mulia.
“DNA kader PKS adalah pelayanan, pengabdian, pembelaan untuk kemanusiaan,” ujarnya.{}









