Latihan Perempuan Siaga (Latansa) M2 meninggalkan kesan positif bagi para kader perempuan PKS Jawa Timur. Selain mendapatkan materi tentang kesehatan dan kebugaran, peserta juga merasakan manfaat permainan kelompok dan long march yang dinilai mampu memperkuat kekompakan, komunikasi, serta semangat untuk menjalani pola hidup sehat.
Salah satu peserta, Eva, menyebut Latansa M2 sebagai kegiatan yang “tak terlupakan”. Menurutnya, materi yang diberikan sesuai dengan tujuan utama kegiatan, yakni membangun qowiyyul jismi atau tubuh yang kuat dan sehat.
“Semua materi yang diberikan saya suka karena memang pas dengan goal-nya qowiyyul jismi (jasad yang kuat),” ujar Eva.
Eva menilai materi kesehatan memberikan pengingat bahwa kebugaran merupakan hasil dari ikhtiar yang dilakukan secara konsisten, mulai dari menjaga pola makan, pola hidup hingga rutin berolahraga. Ia juga merasakan bahwa konsep tubuh yang sehat tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi perlu dipraktikkan.

“Sebagai dai harus punya badan yang sehat dan bugar. Terasa qowiyyul jismi kemarin bukan hanya teori, memang harus praktik,” katanya.
Hal serupa disampaikan Vita. Ia menyukai dua materi yang diberikan, yakni tentang kesehatan dan Wanantara. Menurutnya, materi kesehatan relevan dengan kehidupan sehari-hari karena semakin banyak orang mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan. Sementara materi Wanantara dinilai membuka wawasan peserta dari sisi yang berbeda.
“Dua materi yang disampaikan kemarin saya suka semua. Materinya out of the box dan pematerinya juga good semua,” ungkap Vita.
Selain materi, permainan outbound menjadi bagian yang paling banyak mendapat perhatian peserta. Vita memilih permainan “kereta buta” karena belum pernah mencobanya dalam kegiatan outbound sebelumnya. Permainan tersebut, menurutnya, melatih kepercayaan kepada anggota tim, kekompakan dan komunikasi yang dilakukan melalui tepukan.
Sri juga memilih permainan tutup mata sebagai aktivitas yang paling berkesan. Selain menguji kekompakan dan kepercayaan antarpeserta, permainan tersebut membuat para kader dapat tertawa lepas bersama kelompoknya.

“Permainan ini membuat kita lebih dekat dalam suasana yang berbeda dari aktivitas sehari-hari. Ada sisi lain yang baru muncul saat momen seperti Latansa, terutama saat aktivitas permainan,” tutur Sri.
Menurut para peserta, pembagian kelompok dalam permainan juga menjadi sarana membangun kebersamaan lintas daerah. Anggota yang sebelumnya tidak terlalu mengenal satu sama lain dapat bekerja sama, saling berkomunikasi, dan belajar bertanggung jawab terhadap kelompok.
Lutfi, misalnya, menyukai permainan estafet bola karena melatih kekompakan, komunikasi efektif, fokus terhadap tujuan, sekaligus menikmati keseruan bersama. Ia menilai pembentukan regu, peleton hingga kompi membuat hubungan antara pemimpin dan anggota semakin kuat karena setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap kelompoknya.
Long march juga menjadi pengalaman tersendiri. Eva menilai jarak yang ditempuh cukup untuk peserta perempuan, terutama setelah mengikuti rangkaian kegiatan sejak dini hari. Baginya, long march mengajarkan ketahanan dan kemampuan menyelesaikan perjalanan hingga garis akhir.

Vita juga menilai jarak long march sudah cukup bagi para peserta. Selain menjadi tantangan fisik, perjalanan tersebut memberikan kesempatan menikmati pemandangan alam.
“After-nya paha atas jadi kemeng, tapi happy karena selama long march kita disuguhi pemandangan alam yang wow,” ujarnya.
Sri menyebut long march sebagai aktivitas yang melatih kesabaran, ketahanan, kekompakan, dan saling menyemangati hingga mencapai tujuan. Sementara Lutfi melihat rute yang terdiri dari turunan dan tanjakan menjadi tantangan yang menyenangkan, terutama setelah peserta aktif sepanjang hari.
Bagi para peserta, pengalaman Latansa M2 juga mendorong komitmen untuk lebih rutin berolahraga. Sri mengatakan kegiatan tersebut menjadi pemicu untuk tidak lagi banyak alasan dalam menjaga kebugaran. Vita bahkan mengaku telah rutin berolahraga bersama suami dalam satu hingga dua tahun terakhir dan ingin mempertahankan kebiasaan tersebut hingga usia lanjut.
Eva pun mengaku langsung terdorong untuk kembali berolahraga setelah mengikuti Latansa M2. Ia menilai kesehatan dan kebugaran merupakan bagian dari ikhtiar yang harus dijaga agar kader tetap mampu beraktivitas dan berkontribusi dalam jangka panjang.
“Semoga Latansa M2 benar-benar menguatkan kekompakan antarkader. Kita belajar strategi, bermain bersama, merasa senasib sepenanggungan, saling menjaga amanah dan bekerja sama dalam tim,” kata Eva.
Latansa M2 akhirnya tidak hanya meninggalkan cerita tentang permainan dan perjalanan panjang, tetapi juga membawa pesan sederhana dari para peserta: menjaga kesehatan membutuhkan kebiasaan, sementara kekompakan tumbuh ketika orang-orang mau berjalan, bermain, dan menghadapi tantangan bersama.{}









