Kiprah relawan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam membantu masyarakat terdampak bencana mendapat apresiasi dari Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat (Kasat Binmas) Polres Tulungagung, Iptu Awalu. Ia menilai keterlibatan relawan dalam aksi kemanusiaan menjadi contoh nyata kolaborasi antara masyarakat dan kepolisian dalam melayani sesama.
Apresiasi tersebut disampaikan Iptu Awalu saat mengisi materi wawasan kebangsaan dan keamanan masyarakat dalam kegiatan Kemah Bela Negara (Kembara) M2 Zona 4 dan 5 PKS Jawa Timur di Jurang Senggani, Tulungagung, Jumat (23/10/2026).
Dalam pemaparannya, Iptu Awalu menyinggung keterlibatan kader PKS yang turut membantu penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, kehadiran relawan di tengah masyarakat yang membutuhkan merupakan wujud nyata semangat gotong royong dan kepedulian kemanusiaan.
“Beberapa waktu lalu, kader PKS juga luar biasa ikut membantu bersama kami di NTT. Sungguh luar biasa, kita bisa berkolaborasi. Itulah sebenarnya semangat NKRI, kita hadir di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan, penanganan bencana dan persoalan sosial tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Sinergi antara aparat, relawan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadirkan pertolongan secara cepat sekaligus memperkuat solidaritas sosial.

Menurutnya, semangat membantu sesama perlu terus dipelihara, terutama di tengah kondisi Indonesia yang memiliki beragam potensi bencana. Relawan yang memiliki kepedulian, kesiapan, dan kemampuan bekerja sama akan menjadi kekuatan penting ketika masyarakat menghadapi situasi darurat.
Selain mengapresiasi aksi kemanusiaan, Iptu Awalu membekali peserta Kembara dengan sejumlah persoalan keamanan dan sosial yang perlu diwaspadai di lingkungan masing-masing.
Ia mengingatkan peserta agar bijak menggunakan media sosial, terutama dalam menghadapi maraknya penipuan daring, pinjaman online ilegal, dan penyalahgunaan data pribadi.
Ia menceritakan adanya warga yang tergiur tawaran sepeda motor dengan harga murah di media sosial. Korban kemudian mentransfer uang dan menyerahkan data pribadi, tetapi justru menghadapi ancaman setelah menyadari dirinya menjadi korban penipuan.
Iptu Awalu mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada tawaran yang tidak masuk akal serta tidak sembarangan membagikan nomor induk kependudukan, foto KTP, maupun informasi pribadi lainnya.
Jika menjadi korban penyalahgunaan data atau intimidasi terkait pinjaman yang tidak pernah diajukan, masyarakat diminta segera melapor kepada kepolisian agar dapat ditindaklanjuti.
“Kalau memang tidak merasa melakukan pinjaman online, silakan dilaporkan ke kepolisian. Itu nanti bisa dilacak dan diproses sesuai ketentuan hukum,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahaya judi online. Menurutnya, jejak akun dan transaksi digital dapat menjadi bagian dari penelusuran aparat penegak hukum. Karena itu, masyarakat perlu menghindari praktik perjudian daring dan tidak menganggapnya sebagai aktivitas yang bebas risiko.
Dalam materi tersebut, Iptu Awalu turut mengingatkan bahaya narkoba yang dapat menyasar berbagai kalangan, termasuk orang-orang yang menggunakannya dengan alasan meningkatkan stamina saat bekerja.
Ia mencontohkan penyalahgunaan narkoba oleh pekerja yang ingin bertahan tetap terjaga selama perjalanan panjang. Padahal, penggunaan zat terlarang justru membawa risiko kesehatan dan konsekuensi hukum yang serius.

Ia juga meminta peserta meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran narkoba di lingkungan sekitar, termasuk modus pengiriman barang yang melibatkan kurir.
Masyarakat diminta tidak tergiur imbalan uang tanpa mengetahui isi dan tujuan barang yang dibawa.
Selain narkoba, ia menyoroti potensi paparan paham radikal di kalangan anak dan remaja melalui ruang digital.
Menurutnya, prosesnya bisa bermula dari aktivitas sehari-hari, seperti bermain gim daring, kemudian berlanjut ke percakapan dan grup di media sosial.
Karena itu, pengawasan orang tua, komunikasi di dalam keluarga, dan kepedulian lingkungan sangat dibutuhkan. Anak-anak perlu didampingi agar mampu mengenali ajakan yang berbahaya serta tidak mudah terpengaruh narasi yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.
“Menjaga negara tidak selalu harus dengan mengangkat senjata. Kita bisa mulai dari keluarga, rumah, lingkungan, kabupaten, dan komunitas kita sendiri,” pesannya.{}









