Ketua DPW PKS Jawa Timur, Bagus Prasetia Lelana, menegaskan bahwa kader merupakan aset terbesar yang dimiliki Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Karena itu, proses pembinaan kader harus terus diperkuat melalui berbagai sarana pembinaan, salah satunya Kemah Bela Negara (Kembara).
Pesan tersebut disampaikan Bagus saat membuka kegiatan Kembara M2 Zona 4 dan 5 yang digelar pada Jumat-Ahad (23-25 Oktober 2026) di Jurang Senggani, Tulungagung.
Menurut Bagus, membangun kader yang tangguh dan memiliki komitmen perjuangan membutuhkan proses panjang. Pembinaan tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus berkelanjutan agar kader memiliki karakter, kedisiplinan, dan semangat pengabdian yang kuat.

“Kader itu aset yang paling mahal yang kita miliki,” tegas Bagus di hadapan peserta Kembara.
Ia menjelaskan, Kembara merupakan salah satu sarana pembinaan dan pendidikan kader yang diperuntukkan bagi seluruh jenjang kader, mulai dari pemula hingga utama.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda berkemah, tetapi menjadi bagian dari proses tarbiyah untuk membentuk karakter dan memperkuat ikatan persaudaraan.
Bagus juga mengingatkan bahwa menjadi kader PKS merupakan perjalanan panjang yang tidak bergantung pada jabatan struktural. Menurutnya, jabatan dalam organisasi memiliki batas waktu, sedangkan komitmen sebagai kader harus terus terjaga sepanjang perjalanan pengabdian.
“Jabatan itu ada batas waktunya, lima tahun. Tetapi menjadi kader adalah perjalanan seumur hidup,” ujarnya.
Melalui Kembara, peserta diharapkan belajar menghadapi keterbatasan, membangun kemandirian, melatih kedisiplinan, serta memperkuat ukhuwah.
Berbagai tantangan selama kegiatan menjadi ruang untuk mengenali karakter diri sekaligus belajar bekerja sama dengan sesama kader.
Bagus menegaskan, Kembara bukanlah ujian untuk menentukan siapa yang lulus atau tidak. Partisipasi dan kesungguhan mengikuti proses pembinaan menjadi hal utama, dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan serta kemampuan masing-masing peserta.
Ia juga mendorong kader untuk terus melatih ketahanan fisik secara konsisten. Menurutnya, kemampuan fisik bukan semata-mata ditentukan oleh bakat, tetapi juga dibentuk melalui latihan yang teratur.
“Di kepanduan itu tidak ada orang kuat, yang ada adalah orang terlatih,” ungkapnya.
Selain memperkuat kapasitas diri, Bagus mengajak para peserta menjaga kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan, termasuk perjuangan rakyat Palestina. Ia mendorong kader untuk terus memberikan dukungan dan bantuan sesuai kemampuan sebagai wujud solidaritas terhadap masyarakat yang mengalami penindasan dan penderitaan.
Melalui Kembara M2 Zona 4 dan 5 ini, PKS Jatim berharap proses pembinaan kader semakin kokoh, tidak hanya dalam aspek fisik, tetapi juga keimanan, kedisiplinan, persaudaraan, dan kesiapan berkhidmat kepada masyarakat.
Bagus berharap nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan dapat dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kader PKS semakin siap menjalankan peran pelayanan di tengah masyarakat.{}









