Partai Keadilan Sejahtera memiliki cara sendiri untuk menentukan siapa calon presiden RI yang nanti akan diajukan PKS. Sejak kemarin dan hari ini, Jumat-Sabtu 29-30 Nopember 2014, kader PKS se Indonesia serentak mengikuti Pemira (Pemilihan Raya). Demikian juga kader PKS Jawa Timur, yang ramai-ramai mendatangi TPS di kantor-kantor DPD di 38 kabupaten/kota.
“Ini adalah demokrasi ala PKS. Berbeda dengan partai lain yang menentukan capres dengan menggelar konvensi atau pemilihan oleh elit partai di level propinsi, PKS memilih memberi kesempatan kepada kader secara langsung untuk turut menentukan siapa capres andalan PKS”, jelas H. Hamy Wahjunianto, Ketua DPW PKS Jatim.
Sebanyak 22 pemimpin PKS diputuskan oleh DPP PKS menjadi calon presiden yang bisa dipilih oleh kader. Mereka antara lain Presiden PKS Anis Matta, Ketua FPKS dan mantan Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Menkominfo dan Mantan Presiden PKS Tifatul Sembiring, Mentan Suswono, dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Gubernur Sumut Gatot Pujonugroho, dan kandidat lainnya.
“Kader bebas memilih 5 capres terbaik dari 22 kandidat tersebut. Tergantung pilihan masing-masing. Jadi sangat demokratis”, terang Hamy Wahjunianto. Selanjutnya, hasil Pemira di kabupaten/kota ini akan dihitung dan besuk akan dikumpulkan ke DPw PKS Jatim. “Lima kandidat dengan suara terbanyak selanjutnya akan diserahkan kepada majelis syuro PKS untuk ditindaklanjuti, sesuai dengan tahapan Pemilu dan capaian-capaian politik di pemilihan legisltaif 2014”, jelas mantan Direktur YDSF Surabaya ini.
Endang Wahyu, salah satu kader dan caleg PKS Sidoarjo, mengaku senang sekali bisa ikut Pemira kali ini. “Ini adalah salah satu bentuk penghargaan PKS bagi kadernya untuk turut memberikan aspirasi menentukan pilihannya siapa capresnya. Jadi kader tak sekedar tambal butuh, dipanggil ketika dibutuhkan saja, setelah itu ditinggalkan”, katanya bangga.
Panitia Pemira Sidoarjo, Anang Makruf, berterima kasih kepada kader. “Sampai menjelang ditutup, hampir 100 persen kader yang memiliki hak pilih, sudah rela datang dan memberikan suaranya. Padahal mereka ada yang datang dari tempat yang jauh dan tak ada uang transport dari partai”, katanya. (HQ)









