Kunjungan Presiden PKS Ahmad Syaikhu di Tulungagung, Kamis 17 Maret 2022, selain bertemu dengan bupati juga mengunjungi beberapa komunitas pekerja migran Indonesia. Dalam pertemuan itu, beberapa Pekerja Migran Indonesia (PMI) mengapresiasi perhatian PKS.
Syaikhu menyampaikan, PMI merupakan pahlawan devisa yang punya peran penting dalam membantu pemerintah memajukan Indonesia. Meski demikian, ia meminta seluruh pihak, khususnya pemerintah tidak abai terhadap berbagai persoalan yang dialami para pekerja migran itu.
“PMI itu pahlawan devisa. Namun jika melihat banyaknya persoalan yang dialami pekerja migran di luar sana, pemerintah harus terus didorong untuk agar memberikan advokasi dan berbagai pembinaan,” tegas Syaikhu.
Para PMI itu, ia melanjutkan, jauh saudara, kadangkala juga jauh dari Kedutaan Besar Indonesia.
“Karenanya banyak kejadian tidak mengenakkann, intimidasi yang luput dari perhatian,” ujar Syaikhu.
Syaikhu menjelaskan PKS, punya Pusat Informasi Pelayanan di berbagai negara.
“PIP, kita minta memberikan pelayanan kepada pekerja migran di berbagai negara. Info ini sampai kami, sehingga kita perjuangkan, kita sampaikan ke kementrian luar negeri, atai kementrian terkait,” tegas Syaikhu.
Sejak 2014, Syaikhu menjelaskan PKS membuat sendiri Departemen Pekerja Migran, karena memahami banyak persoalan untuk butuh migran, ternyata benar banya persoalan.
“Harapannya sinergi dan kolaborasi setelah kembali ke Indonesia. Bagaimana memberi informasi dan advokasi kepada PMI di sana,” jelas Syaikhu.
Tak program advokasi, PKS juga membuat berbagai program pelatihan dan pendampingan untuk PMI.
“Misalnya pelatihan enterpreunership, keuangan, juga kerohanian. Ini sangat dibutuhkan mereka,” ujar Syaikhu.
Bagaimanapun juga, ia menyampaikan PMI akan lebih nyaman bekerja di Indonesia, dekat dengan keluarga dekat dengan saudara.
“Akhirnya, jika terpaksa ke luar negeri hanya untuk mencari modal lalu untuk dikembangkan di negeri sendiri.”

Triningsih Ch Rahayu, Kabid Penempatan Perluasan Kesempatan Kerja dan Transmigrasi Disnakertrans Tulungagung yang juga hadir menyampaikan dampak sosial yang ditimbulkan akibat banyaknya PMI tidak bisa dianggap enteng.
Ia menyampaikan, pada 2019 ada sebanyak 7 perceraian setiap harinya di Tulungagung.
Ia khawatir, calon-calom pemimpin Indonesia, berasal dari produk broken home.
Wanita berkacamata ini menyampaikan, PMI jni butuh program pembinaan, untuk mengurangi perceraian.
Tak hanya itu, penjual narkoba juga banyak yang menyasar anak pekerja migran.
“Mereka ini banyak yang hanya ditemani neneknya. Anak-anak mereka bawa uang, orang tuanya yang ngasih karena merasa bersalah tidak menemani,” ujar Trianingsih.
Anak-anak PMI, ia menambahkan, belum ada yang memperhatikan, padahal hak semua anak sama.
“Menjadi PMI pilihan, tapi hak anak PMI jadi tanggung jawab bersama. Karena kita semua menikmati devisa dari para PMI ini,” tegasnya.
Ningsih, salah seorang pekerja purna migran menyampaikan pengalamannya bersama para PMI.
“Di lapangan, kami sedih sekali, bagaimana berpisah dengan suami dengan anak secara bertahun-tahun. Banyak di antara kami yang keluarganya berantakan. Uang yang kami dapat tidak sebanding,” katanya.
Ia berharap PKS bisa memberikan berbagai program pendampingan, khususnya di bidang agama.
“Terima kasih bapak-bapak PKS sudah peduli dengan kami,” ujarnya.
Ketua DPW PKS Irwan Setiawan menyampaikan dalam kunjungan Presiden PKS ke Jawa Timur kali ini, Kami mengagendakan untuk berdialog dengan pekerja Migran di Tulungagung. Alhamdulillah, ini bentuk keinginan kami untuk berkontribusi dan berkolaborasi dengan para pekerja migran. Irwan juga menyampaikan di setiap struktur PKS hingga ke tingkat desa, ada program Rumah Keluarga Indonesia (RKI) dari Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK).
“Bidang ini, salah satu konsennya yaitu mendampingi para keluarga. Para PMI ini, akan jadi prioritas kami,” pungkasnya.{}









