Oleh: Aringga Bayu Puspita, Ketua Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan DPW Partai Keadilan Sejahtera Jawa Timur
Hari Tani Nasional adalah momentum untuk menghargai petani sekaligus melihat kondisi pangan kita.
Jawa Timur memiliki peran penting dalam ketahanan pangan nasional. Data BPS mencatat produksi padi Jawa Timur Januari-Juli 2026 mencapai 7,71 juta ton GKG, meningkat 5,49 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini tertinggi secara nasional. Namun, tahun ini kita menghadapi tantangan kekeringan.
Kekeringan Menguji Ketahanan Pangan
Sejumlah wilayah Jawa Timur mengalami Hari Tanpa Hujan lebih dari 60 hari. Hingga 10 Agustus 2026, tercatat 229,59 hektare lahan padi terdampak kekeringan, dengan 28,30 hektare mengalami gagal panen.
Tulungagung menjadi salah satu wilayah terdampak terbesar, yaitu 88,25 hektare, termasuk 20 hektare puso. Bojonegoro terdampak 70,50 hektare.
Per 7 September 2026, 24 kabupaten/kota di Jawa Timur menetapkan status kedaruratan kekeringan.
Ini bukan lagi persoalan satu desa atau sektor, melainkan persoalan ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
Petani, Peternak, dan Nelayan dalam Satu Ekosistem
Ketika air berkurang, petani menghadapi risiko gagal panen. Peternak mengalami kekurangan pakan dan kenaikan biaya produksi. Nelayan menghadapi cuaca yang sulit diprediksi.
Karena itu, ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang beras, tetapi juga sawah, ternak, dan laut.
Jawa Timur memiliki sektor peternakan dan perikanan yang besar. Semua ini menunjukkan bahwa pangan dibangun oleh banyak sektor dan banyak tangan.
Pemerintah Perlu Bergerak Cepat
Distribusi air, pengeboran, pompanisasi, dan modifikasi cuaca telah dilakukan pemerintah. Namun, kecepatan tetap menjadi kunci.
Bantuan harus datang sebelum tanaman tidak bisa diselamatkan. Beberapa hal perlu terus didorong:
Pertama, data harus terhubung dan bergerak cepat. Kita perlu mengetahui lokasi terdampak, sumber air, luas lahan, jumlah petani, serta bantuan yang dibutuhkan.
Kedua, bantuan harus sesuai kondisi lapangan. Lahan yang masih bisa diselamatkan diprioritaskan untuk pompanisasi. Wilayah tanpa sumber air perlu mendapat solusi alternatif. Petani yang gagal panen harus mendapat pendampingan untuk musim tanam berikutnya.
Ketiga, peternak dan nelayan juga harus diperhatikan. Mereka membutuhkan dukungan air, pakan, informasi cuaca, keselamatan, serta akses pasar.
Anak Muda Harus Mengambil Peran
Persoalan pangan adalah persoalan generasi kita. Anak muda tidak harus semuanya menjadi petani, tetapi harus ikut membangun ekosistem pertanian, peternakan, dan perikanan melalui teknologi, pemasaran, pembiayaan, pengolahan hasil, data, dan akses pasar.
Kita membutuhkan generasi muda yang melihat sawah, peternakan, dan laut sebagai bagian dari masa depan.
Karena itu, saya mengajak para pemuda Jawa Timur untuk tidak hanya menjadi penonton. Mari turun langsung mengenal persoalan pangan di sekitar kita, mendampingi petani, mengembangkan inovasi, membantu pemasaran hasil panen, serta membangun usaha yang membuat sektor pertanian, peternakan, dan perikanan semakin maju.
Tidak perlu menunggu menjadi ahli atau memiliki modal besar untuk memulai. Setiap pemuda dapat mengambil peran sesuai kemampuan: mengembangkan teknologi tepat guna, membuat konten edukasi, membuka akses pasar, mengolah hasil pangan, menghubungkan petani dengan konsumen, atau bergabung dalam gerakan sosial dan komunitas pangan.
Harapan untuk Petani Jawa Timur
Petani harus semakin kuat sebagai pelaku utama pembangunan pangan.
Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang cepat dan berbasis data. Dunia usaha membuka pasar. Perguruan tinggi membawa inovasi. Lembaga pembiayaan membuka akses modal. Anak muda membawa energi baru.
Melalui Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan PKS Jawa Timur, saya ingin terus mendorong kolaborasi lintas sektor. Karena pangan tidak bisa dijaga oleh satu pihak.
Kita membutuhkan gotong royong dalam bentuk kolaborasi, data, teknologi, inovasi, dan keberpihakan kepada para pejuang pangan.
Selamat Hari Tani Nasional 2026.
Terima kasih kepada seluruh petani, peternak, nelayan, dan keluarga mereka di Jawa Timur.
Mari kita jaga pangan, petani, peternak, dan nelayan.
Mari pastikan generasi muda menjadi bagian dari upaya membangun kedaulatan pangan Indonesia.
Saatnya yang muda turun tangan. Saatnya berkolaborasi. Saatnya menjaga pangan untuk menjaga masa depan.{}









