Momentum Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September menjadi refleksi penting bagi masa depan ketahanan pangan Indonesia. Ketua Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan DPW PKS Jawa Timur, Aringga Bayu Puspita, menegaskan bahwa kunci keberhasilan ketahanan pangan tidak hanya pada ketersediaan beras, tetapi juga pada dua hal utama: hilirisasi dan regenerasi petani-peternak.
“Ketahanan pangan bukan sekadar soal beras di lumbung. Saat ini kita menghadapi tantangan ganda: ketergantungan pada bahan baku mentah dan krisis regenerasi petani-peternak. Karena itu, hilirisasi dan regenerasi adalah kunci memastikan ketahanan pangan berkelanjutan,” ujar Aringga, Selasa (24/9).
Aringga menyoroti data BPS yang menunjukkan penurunan jumlah petani sebesar 7,45 persen dalam satu dekade terakhir. Menurutnya, ini pertanda krisis regenerasi serius, karena generasi muda lebih memilih meninggalkan desa untuk bekerja di kota.
“Di sisi lain, hilirisasi sektor pertanian dan peternakan belum merata. Sebagian besar produk masih dijual mentah, sehingga petani dan peternak belum menikmati nilai tambah optimal,” tambahnya.
Dia menilai, strategi hilirisasi bisa dilakukan dengan mendorong pengolahan produk mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
“Susu bisa diolah jadi keju, daging jadi sosis, hasil pertanian jadi produk kemasan. Tidak harus pabrik besar, UMKM desa juga bisa berperan,” jelasnya.
Selain hilirisasi, regenerasi juga harus digenjot dengan menjadikan profesi petani-peternak lebih modern dan menarik bagi anak muda.
“Dengan teknologi pertanian, aplikasi manajemen pakan, hingga sensor otomatisasi, sektor ini bisa identik dengan inovasi, bukan sekadar kerja keras fisik. Ditambah lagi dukungan pembiayaan murah, kredit dengan bagi hasil rendah, dan jaminan pasar, maka anak muda akan tertarik terjun ke sektor ini,” terangnya.
Aringga optimistis, jika hilirisasi dan regenerasi berjalan seiring, siklus positif akan tercipta: pendapatan petani-peternak meningkat, prospek masa depan cerah, dan generasi muda kembali melirik desa sebagai ladang usaha.
“Kalau kita berhasil, Indonesia tidak hanya swasembada pangan, tapi juga punya kedaulatan pangan yang mandiri dan berdaya saing global, dengan petani dan peternak sebagai pilar utamanya,” pungkas Aringga.{}









