Aceh Tamiang kembali menghadapi tantangan serius pascabencana. Selama hampir 20 hari terakhir wilayah tersebut tidak diguyur hujan, menyebabkan kondisi lingkungan semakin kering, berdebu, dan berdampak langsung pada kesehatan warga. Situasi ini dilaporkan langsung oleh Relawan Kemanusiaan PKS Jawa Timur yang hingga kini masih bertahan di lokasi.
Ketua Bidang Kepanduan dan Bela Negara (BKBN) DPW PKS Jawa Timur, Kukuh Nurma Nugroho, menyampaikan bahwa kemarau yang berkepanjangan setelah banjir justru memunculkan persoalan baru, terutama meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).
“Sudah sekitar 20 hari ini tidak ada hujan sama sekali. Kondisi ini membuat debu sangat pekat, terutama di kawasan permukiman yang sebelumnya terendam banjir dan masih dipenuhi lumpur kering,” ungkap Kukuh saat dihubungi dari Aceh Tamiang.
Menurutnya, lumpur sisa banjir yang belum sepenuhnya terangkut kini berubah menjadi debu halus yang mudah terhirup warga. Hal ini diperparah dengan aktivitas pembersihan rumah yang masih berlangsung, sehingga partikel debu semakin menyebar.
“Ini yang membuat risiko ISPA sangat tinggi. Debu bercampur lumpur, ditambah sanitasi yang belum pulih, menyebabkan banyak warga mengalami gangguan pernapasan, diare, dan iritasi kulit,” jelasnya.
Kukuh menuturkan, relawan PKS Jawa Timur saat ini fokus pada dua hal utama, yakni pendampingan pemulihan rumah warga dan upaya pencegahan penyakit. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pembagian masker dalam jumlah besar kepada masyarakat.
“Kemarin kami sudah membeli dan mendistribusikan ratusan masker, dan akan ditambah lagi. Ini ikhtiar sederhana tapi penting untuk mengurangi risiko ISPA di tengah kondisi berdebu seperti sekarang,” katanya.
Selain itu, relawan juga membantu membersihkan saluran drainase yang tersumbat lumpur. Kukuh menjelaskan, satu-satunya cara agar drainase kembali berfungsi adalah dengan mengeluarkan lumpur dari dalam rumah dan pemukiman, lalu diangkut keluar oleh alat berat pemerintah.
“Kalau lumpur tidak segera diangkat, sanitasi akan terus memburuk. Ini berbahaya karena bisa memicu penyakit berkepanjangan,” ujarnya.
Terkait keberlanjutan misi kemanusiaan, Kukuh memastikan bahwa relawan PKS Jatim akan terus bergantian bertugas setiap 21 hari. Saat ini, kloter relawan baru telah disiapkan untuk menggantikan tim sebelumnya agar pendampingan terhadap warga tetap berjalan.
“Kami sadar relawan juga bisa lelah, tapi warga di sini masih membutuhkan pendampingan. Karena itu kami berkomitmen untuk tetap hadir, meskipun relawan dari daerah lain sudah banyak yang kembali,” tegasnya.

Ia menambahkan, relawan PKS Jawa Timur telah berada di Aceh Tamiang sejak akhir November dan kini sudah lebih dari 50 hari membersamai warga dalam masa pemulihan.
“Harapan kami sederhana, kehadiran relawan bisa membahagiakan dan menguatkan warga. Mereka tidak sendiri menghadapi kondisi berat ini,” pungkas Kukuh.









