Kesiapsiagaan menghadapi bencana menjadi salah satu fokus kegiatan Kembara M2 DPW PKS Jawa Timur di kawasan Coban Rondo, Kabupaten Malang, 16-18 Oktober 2026. Peserta tidak hanya ditempa secara fisik dan mental, tetapi juga dilatih menghadapi situasi darurat melalui simulasi lapangan.
Ketua Bidang Kepanduan dan Bela Negara (BKBN) DPW PKS Jawa Timur, Kukuh Nurma Nugroho, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan dirancang untuk membiasakan kader bersikap sigap, beradaptasi dengan situasi tak terduga, dan bekerja sama ketika menghadapi kondisi darurat.
Simulasi dilakukan melalui pengelolaan dapur umum. Peserta yang semula disiapkan bekerja dalam kelompok kecil diarahkan untuk membangun dapur umum bersama.
Jadwal kegiatan juga tidak seluruhnya diberitahukan sebelumnya, sehingga peserta dituntut selalu siap ketika mendapat panggilan untuk bergerak.
Dalam dua kali kegiatan long march, peserta turut menghadapi tantangan mengatur perlengkapan dan kebutuhan logistik. Pada perjalanan terakhir, mereka bahkan harus menyiapkan makanan untuk makan malam sejak siang hari di tengah perjalanan.
Selain simulasi kebencanaan, peserta mendapat materi kegawatdaruratan yang disertai praktik langsung. Mereka dilatih mengenali kondisi korban yang tidak responsif dan tidak bernapas normal, serta mempraktikkan resusitasi jantung paru (RJP/CPR) menggunakan manekin untuk membantu korban henti jantung. Peserta juga diperkenalkan pada prinsip pertolongan awal dalam kondisi darurat lainnya.

Menurut Kukuh, relawan kebencanaan tidak cukup hanya memiliki keberanian dan ketahanan fisik. Mereka juga perlu menguasai keterampilan dasar, mampu berkoordinasi, serta memahami langkah awal yang tepat ketika menghadapi korban.
“Relawan harus siap bergerak, mampu beradaptasi dengan kondisi lapangan, dan memiliki bekal keterampilan yang diperlukan untuk membantu masyarakat,” demikian pesan yang sejalan dengan tujuan pembinaan dalam Kembara.
Pengalaman menghadapi simulasi perpindahan camp juga memberikan pelajaran tersendiri bagi peserta, terutama dalam mengatur perlengkapan dan kebutuhan makanan agar tetap praktis saat harus bergerak.
Arip Imawan, peserta Kembara M2 dari Gresik, mengaku mendapat pelajaran berharga dari konsep kegiatan yang mengusung tema kebencanaan tersebut. Menurutnya, perpindahan dari satu camp ke camp lain membuat peserta perlu memikirkan kembali perlengkapan yang benar-benar penting untuk dibawa.
“Konsep yang dibuat panitia Kembara kemarin bertema kebencanaan, yang mengharuskan pindah dari camp satu ke camp lain. Justru ini saya jadikan pelajaran untuk Kembara tahun depan,” ujar Arip.
Ia bahkan mulai menyusun daftar perlengkapan makanan yang dinilai cukup praktis, mulai dari kompor portabel, telur, kentang, kurma, hingga air secukupnya.
“Meskipun tidak makan nasi, tidak bakal kelaparan. Cukup telur rebus, kentang rebus, dan tiga butir kurma, insyaallah sudah kenyang,” katanya.
Bagi Arip, pengalaman tersebut menjadi pelajaran tentang pentingnya menyiapkan logistik secara efisien tanpa membawa barang berlebihan. Dalam situasi kebencanaan, kemampuan mengelola persediaan dan menentukan kebutuhan prioritas menjadi bagian penting agar mobilitas relawan tetap terjaga.
Melalui simulasi kebencanaan, praktik kegawatdaruratan, serta latihan pengelolaan logistik, Kembara M2 diharapkan meningkatkan kesiapan kader untuk menghadapi kondisi darurat dan memberikan pertolongan kepada masyarakat yang membutuhkan.{}









