DNA Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah relawan. Di mana pun berada, kader PKS harus siap hadir dan memberikan pertolongan kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk ketika terjadi kecelakaan maupun situasi kegawatdaruratan.
Hal inilah yang membuat para peserta dibekali keterampilan dasar penanganan kegawatdaruratan, agar tidak hanya memiliki kepedulian untuk menolong, tetapi juga memahami cara memberikan pertolongan yang tepat.
Materi itu didapat di kegiatan Kemah Bela Negara (Kembara) M2 PKS Jawa Timur yang digelar di Jurang Senggani Kabupaten Tulungagung, 23-25 Oktober 2026.
Tri Suasana Abadi, kader PKS yang berprofesi sebagai perawat dan memiliki perhatian khusus pada penanganan kegawatdaruratan, menjadi pematerinya. Dalam sesi pelatihan, peserta mendapatkan penjelasan sekaligus praktik mengenai teknik pertolongan pertama, khususnya penanganan dan evakuasi korban kecelakaan.
Tri menegaskan, niat baik untuk menolong harus disertai pengetahuan yang memadai. Sebab, tindakan yang dilakukan secara terburu-buru tanpa memahami prosedur justru berisiko memperburuk kondisi korban.

“Orang yang menolong tentu niatnya baik, ingin segera membawa korban ke rumah sakit agar mendapat penanganan. Namun, kalau cara menolongnya salah, kondisi korban justru bisa semakin parah,” jelas Tri.
Berdasarkan pengalamannya saat bertugas di instalasi gawat darurat rumah sakit, ia beberapa kali menjumpai kasus kecelakaan ketika korban mengalami kondisi lebih serius akibat penanganan awal yang kurang tepat.
Salah satu situasi yang menjadi perhatian adalah kecelakaan yang menyebabkan benturan kepala, terutama jika korban tidak sadarkan diri atau mengalami perdarahan. Kondisi seperti ini harus diperlakukan sebagai keadaan serius yang membutuhkan penanganan hati-hati.
Tri mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan mengangkat, mendudukkan, atau memindahkan korban dengan dugaan cedera kepala maupun tulang belakang.
Gerakan yang tidak tepat berisiko memperparah cedera, terutama jika terdapat gangguan pada leher atau tulang belakang.
Karena itu, penolong perlu menjaga kepala dan leher korban tetap stabil, menghindari gerakan yang tidak diperlukan, serta segera meminta bantuan tenaga medis atau layanan darurat.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, Tri tidak hanya menyampaikan teori. Ia mengajak peserta melakukan simulasi evakuasi korban secara berkelompok.
Dalam praktik tersebut, peserta belajar pentingnya koordinasi, pembagian peran, dan komunikasi saat memindahkan korban.
Setiap penolong harus memahami tugasnya agar proses evakuasi berlangsung lebih aman dan tubuh korban tetap stabil.
Tri menekankan bahwa dalam situasi darurat, kecepatan memang penting, tetapi keselamatan korban tidak boleh diabaikan.
Menolong bukan sekadar bergerak cepat, melainkan juga mengambil tindakan yang tepat sesuai kondisi yang dihadapi.
Keterampilan ini dinilai relevan bagi kader PKS yang kerap terlibat dalam kegiatan pelayanan masyarakat dan aksi kemanusiaan, termasuk ketika membantu korban bencana.
Di lapangan, relawan bisa saja menjadi pihak pertama yang menjumpai korban sebelum tenaga medis tiba. Karena itu, pemahaman dasar mengenai penanganan kegawatdaruratan dapat membantu relawan mengambil langkah awal yang aman sambil menunggu bantuan profesional.

Melalui materi ini, Kembara M2 tidak hanya menjadi sarana pembinaan fisik, kedisiplinan, dan mental kader, tetapi juga ruang untuk meningkatkan keterampilan praktis yang bermanfaat bagi masyarakat.
Semangat kerelawanan, menurut pesan yang ditekankan dalam pelatihan tersebut, perlu diwujudkan dalam kesiapan bertindak ketika orang lain membutuhkan pertolongan. Namun, kesiapan itu harus dibarengi kemampuan, kehati-hatian, dan pemahaman terhadap batas tindakan yang aman.
Dengan bekal tersebut, kader diharapkan mampu hadir di tengah masyarakat bukan hanya membawa semangat kepedulian, tetapi juga keterampilan untuk memberikan pertolongan pertama secara tepat dan bertanggung jawab.{}









