Keresahan terhadap kondisi negara dan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya generasi muda, mengantarkan Sekretaris DPW PKS Jawa Timur, Muhamad Syadid, menulis buku berjudul “Negara Ini Nge-Bug, Bukan Kamu yang Salah”.
Melalui buku itu, Syadid mengajak generasi muda untuk melihat persoalan secara kritis, memahami akar masalah, dan tidak berhenti pada keluhan.
Gagasan itu disampaikan Syadid saat menjadi narasumber dalam kegiatan Jatim Muda Bicara yang digelar Bidang Kepemudaan DPW PKS Jawa Timur di Aula Kantor DPW PKS Jatim, Senin (26/10/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan puluhan anak muda atau Gen Z untuk berdiskusi langsung mengenai keresahan sosial, kepemimpinan, dan masa depan bangsa.
Di hadapan peserta, Syadid menceritakan bahwa buku terbarunya lahir dari pertanyaan-pertanyaan yang terus mengusik pikirannya, terutama mengenai kepemimpinan dan sistem yang berjalan di negara ini.
“Kalau kalian mau menulis sesuatu, mulailah dari keresahan,” ungkap Syadid.
Menurutnya, keresahan dapat menjadi titik awal untuk melahirkan gagasan dan karya. Persoalan yang dirasakan sehari-hari tidak harus berhenti menjadi keluhan, tetapi bisa diolah menjadi pemikiran yang lebih terstruktur dan disampaikan kepada publik melalui tulisan.
Bagi Syadid, salah satu pertanyaan mendasar yang mendorong lahirnya buku tersebut adalah mengenai hubungan antara kualitas pemimpin dan sistem yang mengatur negara. Ia mengajak peserta mendiskusikan mana yang perlu lebih dahulu dibenahi: sosok pemimpin atau sistem yang dijalankan.
Dalam diskusi itu, Syadid menekankan pentingnya sumber daya manusia yang mampu menggerakkan perubahan. Ia mengambil pelajaran dari kisah para nabi dan pahlawan yang tidak menunggu keadaan ideal untuk memulai perjuangan.
“Para pahlawan kita tidak menunggu negara merdeka baru berjuang. Mereka yang memperjuangkan kemerdekaan,” tuturnya.

Ia ingin menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan orang-orang yang berani mengambil peran, membangun dukungan, dan bekerja untuk memperbaiki keadaan.
Latar belakang akademik dan pengalamannya selama tinggal di Mesir turut memengaruhi cara pandangnya terhadap persoalan negara. Syadid mengisahkan pengalamannya menyaksikan perubahan politik di negara tersebut, mulai dari pergantian kekuasaan hingga situasi ketika demokrasi mengalami tekanan.
Pengalaman itu membuatnya memikirkan hubungan antara sistem politik, kualitas kepemimpinan, dan kemampuan negara memenuhi kebutuhan warganya.
Dalam forum tersebut, ia juga mengajak peserta mencermati persoalan layanan publik, pendidikan, kesehatan, ketimpangan ekonomi, hingga kesempatan generasi muda membangun masa depan.
Ia menyoroti harapan masyarakat agar negara mampu menghadirkan layanan dasar yang lebih mudah diakses.
Menurutnya, persoalan semacam itu perlu dibahas dengan melihat kebijakan, tata kelola, dan mekanisme pelayanan, bukan semata-mata menyalahkan individu yang mengalami kesulitan.
Syadid juga mengajak Gen Z menyampaikan keresahan yang mereka hadapi, mulai dari persoalan ekonomi dan literasi keuangan hingga kekhawatiran tentang masa depan dan kehidupan berkeluarga.
Baginya, mendengarkan pengalaman generasi muda menjadi bagian penting untuk memahami persoalan secara lebih utuh.
Dalam membahas buku tersebut, Syadid tidak meminta peserta menerima semua isi buku begitu saja. Ia justru mendorong mereka membangun kebiasaan membaca secara kritis dan memeriksa kebenaran informasi.
Ia menyarankan pembaca untuk menguji argumen, mencari rujukan, membandingkan pandangan, serta mendiskusikan isi buku dengan orang lain. Dengan cara itu, pembaca tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menilai kekuatan dan kelemahan suatu gagasan.
Pesan tersebut relevan di tengah derasnya arus informasi digital, ketika opini dan klaim mudah menyebar tanpa selalu disertai dasar yang memadai.{}









