Fenomena bullying terhadap anak yang kian marak, baik di dunia nyata maupun ruang digital, mendorong Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur mencari solusi berbasis keluarga. Salah satunya melalui penguatan program Rumah Keluarga Indonesia (RKI) hingga rencana pembentukan call center keluarga sebagai ruang konsultasi yang mudah diakses masyarakat.
Hal itu disampaikan Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka) DPW PKS Jawa Timur, Nurul Arba’ati, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Fraksi PKS Jatim Bicara bertajuk “Darurat Bullying di Jatim, Siapa yang Bertanggung Jawab?”, yang digelar secara daring pada Senin (16/12/2025).
Nurul menegaskan bahwa akar persoalan bullying tidak bisa dilepaskan dari ketahanan keluarga. Menurutnya, keluarga yang hangat, komunikatif, dan saling terhubung menjadi benteng utama dalam mencegah anak menjadi korban maupun pelaku perundungan.
“Selama ketahanan keluarga terjaga, insya Allah banyak persoalan anak, termasuk bullying, bisa diminimalkan. Karena itu kami di Bidang Perempuan dan Keluarga fokus pada penguatan keluarga,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Bipeka PKS Jatim memiliki dua program utama, yakni Rumah Keluarga Indonesia (RKI) dan Pos Pemberdayaan Ekonomi Keluarga. Khusus untuk isu bullying, RKI menjadi program yang paling relevan karena menawarkan konsep keluarga teladan yang bisa dijadikan rujukan masyarakat.
“RKI ini ingin menghadirkan model keluarga yang hangat, saling mendengar, dan saling peduli. Keluarga-keluarga seperti ini diharapkan bisa menjadi contoh di lingkungan sekitarnya,” kata Nurul.
Menariknya, dalam program RKI juga disiapkan konsultan keluarga yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat. Layanan ini ditujukan bagi orang tua, remaja, maupun anggota keluarga yang ingin berkonsultasi terkait persoalan keluarga, termasuk tekanan psikologis anak dan gejala bullying.
“Kalau konsultan keluarga komersial kan berbayar. Konsultan RKI ini insya Allah tanpa biaya. Masyarakat bisa menghubungi Bipeka atau kantor PKS terdekat untuk mendapatkan pendampingan,” jelasnya.
Ke depan, PKS Jatim juga tengah menggagas pembentukan call center keluarga sebagai pintu masuk layanan konsultasi yang lebih luas dan mudah diakses. Call center ini diharapkan menjadi ruang aman bagi masyarakat yang ingin curhat, meminta saran, atau mencari solusi atas persoalan keluarga tanpa harus menunggu kondisi menjadi berat.
“Kalau sakit fisik orang tahu harus ke mana. Tapi kalau ada masalah keluarga atau ingin sekadar curhat, sering kali bingung. Call center ini kami siapkan agar masyarakat punya tempat bertanya dan berkonsultasi,” ungkap Nurul.
Ia juga menyoroti pentingnya peran ayah dalam keluarga. Menurutnya, kehadiran ayah tidak cukup hanya secara ekonomi, tetapi juga secara emosional dan komunikasi. Karena itu, Bipeka PKS Jatim juga menguatkan Forum Ayah sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan keluarga.
“Kita ingin keluarga kembali kohesif, bukan sekadar kumpul tapi sibuk dengan gawai masing-masing. Gerakan kumpul keluarga dan pembatasan gadget saat bersama adalah langkah kecil tapi penting,” tambahnya.
Melalui penguatan RKI, konsultan keluarga, hingga rencana call center, PKS Jatim berharap upaya pencegahan bullying tidak hanya berhenti pada penanganan kasus, tetapi menyentuh akar persoalan di lingkungan keluarga.
“Bullying anak adalah masalah bersama. Solusinya juga harus melibatkan keluarga, masyarakat, dan negara secara gotong royong,” pungkas Nurul.{}









