DPW PKS Jawa Timur menggelar peringatan Nuzulul Qur’an pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian program Ramadhan ini berlangsung khidmat dan diikuti oleh jajaran pengurus wilayah, kader, serta sejumlah tokoh PKS di Jawa Timur.
Ketua DPW PKS Jawa Timur Bagus Prasetia Lelana menegaskan bahwa momentum Nuzulul Qur’an harus dimaknai lebih dari sekadar peringatan sejarah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
“Ketika wahyu pertama turun di Gua Hira, yang lahir bukan sekadar ayat suci. Yang lahir adalah gerakan perubahan peradaban,” ujar Bagus dalam sambutannya.
Menurutnya, ayat pertama yang memerintahkan membaca, Iqra’, mengandung makna yang luas, yakni membaca realitas, memahami tantangan zaman, serta menyiapkan arah masa depan umat.
Bagus menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun, terdiri dari 13 tahun pada periode Makkah dan 10 tahun pada periode Madinah. Proses bertahap itu, menurutnya, menunjukkan bagaimana Islam membangun peradaban dengan menyiapkan generasi terlebih dahulu.
“Rasulullah menanamkan tauhid sebelum strategi, membangun akhlak sebelum struktur. Ini pelajaran bagi kita. Kita ingin kuat, tetapi kekuatan tanpa nilai akan rapuh. Kita ingin menang, tetapi kemenangan tanpa keberkahan akan kosong,” tegasnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh kader menjadikan Al-Qur’an sebagai blueprint perjuangan, baik dalam membangun karakter pribadi, gerakan dakwah, maupun pelayanan kepada masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Bagus juga menekankan tiga penguatan strategis bagi kader PKS Jawa Timur, yaitu ruhiyah, fikriyah, dan harokah.
Pertama, ruhiyah yang kuat, dengan menghidupkan tilawah Al-Qur’an, memperkuat qiyamul lail, serta menjaga halaqah pembinaan yang hidup dan bermakna.
Kedua, fikriyah yang tajam, yakni kemampuan membaca isu, memahami data, serta menghadirkan gagasan yang relevan bagi masyarakat.
Ketiga, gerakan yang berdampak, yaitu menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam bentuk pelayanan nyata kepada masyarakat.
“Al-Qur’an harus terasa dalam pelayanan kita. Masyarakat harus merasakan manfaat kehadiran kader,” ujarnya.
Selain tausiyah dan refleksi Nuzulul Qur’an, kegiatan tersebut juga diisi dengan khataman Al-Qur’an yang diikuti oleh para pengurus DPW PKS Jawa Timur.
Khataman dilakukan sebagai bentuk syukur sekaligus penguatan spiritual kader di bulan Ramadhan. Para peserta secara bergantian membaca Al-Qur’an hingga menuntaskan 30 juz secara berjamaah.
Momentum ini, menurut panitia, menjadi simbol komitmen kader PKS Jawa Timur untuk terus mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, tidak hanya dalam tilawah, tetapi juga dalam pemikiran dan gerakan sosial.
Di akhir sambutannya, Bagus menyampaikan harapannya agar Jawa Timur menjadi basis lahirnya kader-kader Qur’ani yang kuat dalam nilai, kepemimpinan, dan pelayanan.
“Saya ingin Jawa Timur menjadi basis kader Qur’an, basis kepemimpinan yang amanah, dan basis pelayanan umat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa jika nilai Al-Qur’an hidup dalam diri kader, maka langkah perjuangan akan tetap terjaga dan membawa keberkahan bagi masyarakat.
Peringatan Nuzulul Qur’an ini juga menghadirkan tausiyah dari Ustaz Dr. Jamaluddin Achmad Kholik, Lc, MA yang membahas fiqh i’tikaf menjelang sepuluh hari terakhir Ramadhan, sebagai bekal bagi kader dalam menghidupkan ibadah di penghujung bulan suci.{}









