Kemah Bela Negara (Kembara) M2 Zona 2 dan Zona 3 yang digelar DPW PKS Jawa Timur di Lumajang, Jumat–Ahad (9–11 Oktober 2026), menjadi momentum untuk memperkuat iman, mental, kedisiplinan, dan semangat pengabdian kader dalam membela Indonesia.
Sekretaris DPW PKS Jawa Timur, Muhamad Syadid, menegaskan bahwa Kembara bukan sekadar kegiatan perkemahan, melainkan bagian dari proses pembinaan untuk membentuk kader yang tangguh, berkarakter, serta siap mengambil peran dalam perjuangan membangun bangsa.
Dalam sambutannya, Syadid menyampaikan tiga pesan Ketua DPW PKS Jatim, Bagus Prasetia Lelana yang saat ini berhalangan hadir karena sedang ada kegiatan di NTB, kepada para peserta.
Pesan tersebut meliputi penguatan iman dan mental, kesiapan menjadi teladan, serta menjaga amanah perjuangan dan kekuatan bersama.
“Yang pertama, kuatkan iman dan mental. Kekuatan kita bukan semata-mata fisik, tetapi juga iman, keteguhan hati, dan mental yang tidak mudah goyah ketika menghadapi tantangan,” ujar Syadid menyampaikan pesan tersebut.
Menurutnya, kader yang kuat harus mampu menghadapi berbagai ujian tanpa kehilangan prinsip dan arah perjuangan.

Kedisiplinan, kesabaran, dan keteguhan menjadi modal penting untuk menjalankan pengabdian, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pesan kedua yang disampaikan Syadid adalah pentingnya kader menjadi teladan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan perjuangan. Kader bela negara, menurutnya, harus menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diyakini tercermin dalam sikap, tanggung jawab, dan tindakan nyata.
Semangat bela negara, dalam konteks tersebut, tidak hanya diwujudkan melalui kesiapan menghadapi situasi darurat, tetapi juga melalui kedisiplinan, kepedulian sosial, kesediaan membantu masyarakat, serta kesungguhan menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.
Syadid juga mendorong kader untuk menyiapkan diri mengemban amanah kepemimpinan. Ia menyampaikan bahwa kader-kader dari Zona 2 dan Zona 3 perlu terus meningkatkan kapasitas agar mampu berkontribusi lebih luas dalam kehidupan publik.
“Kita harus menjadi teladan bagi diri kita, keluarga kita, dakwah ini, dan partai ini,” ujarnya.
Pesan tersebut, lanjutnya, menuntut kader untuk terus belajar, memperkuat kapasitas, dan menjaga integritas. Kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang membutuhkan kesiapan mental, karakter, serta keberanian untuk bertanggung jawab.
Pesan ketiga yang disampaikan Bagus melalui Syadid adalah menjaga amanah, kekuatan perjuangan bersama, serta konsistensi dalam membela nilai-nilai kemanusiaan.
Syadid mengingatkan bahwa perjuangan kader tidak boleh berhenti pada kepentingan organisasi. Pengabdian harus memiliki orientasi yang lebih luas, yakni memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Ia secara khusus menyampaikan pesan agar kader tetap mengingat perjuangan kemerdekaan Palestina sebagai bagian dari kepedulian terhadap bangsa yang masih menghadapi penderitaan dan konflik.
“Jaga amanah, jaga amal jamaah, jaga kekuatan perjuangan kita. Ujung perjuangan kita adalah pembelaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, termasuk kemerdekaan Palestina,” demikian pesan yang disampaikan Syadid.{}









