
SURABAYA – Pemkot bakal mengganti seluruh meteran listrik di flat dengan memberlakukan sistem prabayar atau token. Perubahan itu akan dilakukan terhadap 4.419 unit flat yang kini disewakan kepada warga kurang mampu.
Anggota Komisi D DPRD Surabaya Reni Astuti mendatangi salah satu flat di daerah Jambangan kemarin (2/4). Dia mendapat laporan warga yang khawatir tagihan listriknya naik saat meteran diganti. ’’Padahal, sebenarnya enggak. Justru bisa lebih hemat kalau pakai token,’’ ujar politikus PKS tersebut.
Reni menerangkan, penggunaan listrik bakal lebih terpantau jika sistem prabayar diterapkan. Warga yang terbiasa menggunakan sistem pascabayar biasanya lebih boros listrik. Sebab, beban listrik tidak diketahui.
Warga mulai khawatir karena banyak meteran listrik baru yang terpasang. Rencananya, seluruh meter listrik di flat warga tersebut dialihkan di lantai dasar. Ada juga yang menanyakan alasan tidak dipasangnya meteran listrik di depan unit flat.
Warga akan merasa kesulitan bila meteran listriknya tiba-tiba mati. Terutama yang menempati lantai tertinggi.
Reni meminta pemkot dan PLN mengkaji peletakan meter tersebut. Sebab, tidak semua penghuni flat kuat naik turun tangga. ’’Kalau orangnya sakit kan kasihan,’’ kata anggota Badan Musyawarah DPRD Surabaya tersebut.
Kabid Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukinan Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKPCKTR) Surabaya Taufik Siswanto menerangkan penggunaan listrik token juga dilakukan untuk pembangunan flat baru. Tahun ini pemkot membanguin flat Penjaringasari dan Siwalankerto. ”Biar beban listrik di gedung itu tidak terlampau tinggi,” jelasnya.
Taufik mengharapkan agar penghuni rusun bisa bijak dalam pemakaian listrik. Jika beban listrik telampau tinggi, aliran di satu gedung bisa terpengaruh.
(dikutip dari Jawa Pos 3 April 2018)









