Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur, H.M. Syadid, Lc., M.H., menghadiri gelaran Akademi Pemimpin Muda Indonesia (APMI) CORE 2026 yang berlangsung di Hotel Namira Syariah, Pagesangan, Surabaya, Ahad (27/9/2026). Kegiatan bertema “Young Leaders, Future Shapers” ini merupakan hasil kolaborasi Bidang Kepemudaan (BKP) DPP PKS dan DPW PKS Jawa Timur, dan berlangsung sejak pagi hingga sore, pukul 07.30–17.00 WIB.
Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua DPP PKS Bidang Kepemudaan Aang Kunaifi, S.T., M.Si, serta Kasubid Koordinator Pemuda Politik BKP DPP PKS Kamaludin Nenuh, S.E.I., M.A.B., yang memberikan pembekalan langsung kepada ratusan kader muda delegasi dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Dalam sambutannya, pria yang kerap dipanggil Mas Syadid itu menegaskan bahwa pemuda Jawa Timur hari ini tidak boleh lagi diperlakukan sekadar sebagai pelengkap kuota pemilih pemula di TPS.
“Pemuda bukan sekadar komoditas suara. Mereka adalah arsitek masa depan Jawa Timur. Saatnya kita bergerak selaras, menyatukan potensi santri di Tapal Kuda dan teknokrat muda di Arekan dalam satu visi kepemimpinan,” ujar Syadid.
Ia menambahkan, semangat ini sejalan dengan pandangan Ulama yang menempatkan pemuda sebagai sirru an nahdhah atau rahasia kebangkitan sebuah peradaban — bersandar pada empat pilar karakter: iman yang teguh, ikhlas tanpa pamrih, semangat yang membara, dan kesiapan berkorban dalam aksi nyata.
Sebagai Sekretaris DPW yang turut membidangi penguatan kapasitas kepemudaan wilayah, Syadid menjelaskan bahwa Bidang Kepemudaan DPW PKS Jawa Timur, di bawah koordinasi Ketua BKP Cahyo Siswo Utomo, S.T. dan Sekretaris BKP Arif Syaifurrisal, telah menyusun kerangka kerja ekosistem pemuda progresif yang mencakup tiga sumbu utama: penguatan infrastruktur dan kapasitas internal, ekspansi kolaborasi lintas komunitas, hingga aksi kepeloporan dan advokasi isu strategis di tingkat regional.
“Dari forum APMI CORE ini, kami berharap lahir pemimpin muda yang menyebar ke seluruh kabupaten/kota, bukan sebagai penonton atau mesin pendulang suara, tetapi sebagai perumus kebijakan dan jembatan kemaslahatan rakyat,” pungkasnya.
Acara ditutup dengan komitmen peserta untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut 100 hari di daerah masing-masing, sebagai wujud nyata transformasi dari sekadar wacana menuju gerakan sosial yang berpijak pada nilai shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.{}









