Tingginya kasus HIV/AIDS di Jawa Timur kembali menjadi perhatian berbagai pihak. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, Jawa Timur masih menjadi salah satu provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Indonesia.
Sejumlah daerah, termasuk Sidoarjo, juga mencatat peningkatan temuan kasus dalam beberapa tahun terakhir, sehingga membutuhkan langkah pencegahan dan penanganan yang semakin komprehensif.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (Bipeka) DPW PKS Jawa Timur, Nurul Arba’ati, mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan tingginya kasus HIV sebagai alarm bersama, bukan ruang untuk saling menyalahkan.
“Temuan tingginya kasus HIV harus menjadi perhatian bersama seluruh elemen masyarakat. Fokus kita bukan mencari siapa yang salah, tetapi memperkuat upaya pencegahan dan penanganan secara komprehensif agar kasus serupa dapat ditekan,” ujar Nurul.
Menurutnya, persoalan HIV memiliki banyak faktor yang saling berkaitan, sehingga perlu dikaji secara menyeluruh. Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian adalah penguatan ketahanan keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk karakter, pola komunikasi, dan perilaku setiap anggota keluarga.
“Kita perlu mempelajari akar persoalannya secara utuh. Bisa jadi dipengaruhi berbagai faktor, termasuk lemahnya ketahanan keluarga, kurangnya edukasi, perilaku berisiko, hingga tantangan sosial lainnya. Karena itu, penguatan keluarga menjadi salah satu ikhtiar penting dalam membangun sistem pencegahan yang lebih baik,” katanya.
Nurul menegaskan, keluarga merupakan benteng pertama dalam membangun generasi yang sehat, berkarakter, dan bertanggung jawab. Ketika komunikasi antara orang tua dan anak berjalan baik, nilai-nilai moral ditanamkan sejak dini, serta remaja mendapatkan pendampingan yang memadai, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Ketahanan keluarga bukan sekadar isu domestik, tetapi fondasi ketahanan sosial masyarakat. Jika keluarga kuat, generasi muda akan memiliki ruang dialog, pendampingan, dan penguatan nilai yang membantu mereka mengambil keputusan secara bertanggung jawab dalam menghadapi berbagai risiko kehidupan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pencegahan HIV tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Edukasi, literasi kesehatan reproduksi yang bertanggung jawab, pendampingan remaja, penguatan nilai dalam keluarga, serta dukungan lingkungan sosial yang sehat juga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Karena itu, Bipeka PKS Jawa Timur mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pemerintah kabupaten/kota, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi masyarakat, dan keluarga untuk memperkuat sinergi dalam membangun program edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, pada momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026, Bipeka PKS Jawa Timur meluncurkan Halo Rumah Keluarga Indonesia (Halo RKI), layanan call center konsultasi keluarga yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkonsultasi mengenai berbagai persoalan keluarga secara aman dan nyaman.
“Melalui Halo RKI, kami ingin masyarakat memiliki akses yang lebih mudah untuk mendapatkan pendampingan ketika menghadapi persoalan keluarga. Harapannya, masalah dapat dikenali lebih dini sehingga keluarga semakin kuat dan berbagai persoalan sosial dapat diminimalkan,” ujar Nurul.
Selain Halo RKI, Bipeka PKS Jawa Timur juga menjalankan Sekolah Keluarga Indonesia (SKI), pelatihan konsultan keluarga, serta Pos Pemberdayaan Ekonomi Keluarga (PPEK) sebagai upaya memperkuat keluarga dari aspek pendidikan, psikologis, sosial, dan ekonomi.
“Bagi kami, keluarga yang kuat adalah investasi jangka panjang bagi bangsa. Ketika keluarga mampu menjalankan fungsi pendidikan, perlindungan, dan kasih sayang dengan baik, kita sedang membangun fondasi bagi lahirnya generasi Jawa Timur yang sehat, tangguh, dan berdaya saing,” pungkas Nurul.{}









