DPRD Jatim, Bhirawa, 18 Juli 2011
PT Lamongan Integrated Shorebase (LIS) yang merupakan anak perusahaan PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim-BUMD milik Pemprov Jatim, ditengarai bertahun-tahun merugi hingga mencapai Rp 400 miliar. Ini setelah perusahaan asal Singapura, PT Eastern Logistics (Easlog) Ltd dikabarkan ‘menguasai’ perusahaan pelat merah milik Pemprov Jatim dan Kabupaten Lamongan dalam bidang pengelolaan jasa pelabuhan.
Anggota Komisi C DPRD Jatim Yusuf Rohana mengungkapkan saat ini LIS tengah bermasalah dengan perusahaan asing asal Singapura tersebut sehingga dana penyertaan modal yang diberikan Pemprov Jatim sebesar Rp 25 miliar lewat APBD 2010 tak terserap. Dipastikan dana yang diharapkan dapat mendorong kinerja LIS di antaranya untuk perluasan lahan tersebut terancam kembali ke kas daerah.
”Saya melihat Easlog Ltd asal Singapura ini perusahaan nakal. Mengingat mereka menguasai seluruh laba yang didapatkan oleh LIS dengan alasan macam-macam. Namun demikian pemerintah tidak dapat berbuat apa-apa karena kontrak kerja disepakati selama 30 tahun,”tegas politisi asal PKS ini dengan nada gusar, Minggu (17/7).
Gara-gara penguasaan ini, membuat LIS tidak dapat berkembang. PT PWU sebagai induk dari LIS juga merasa didolimi oleh Easlog Ltd yang dalam perjanjiannya ternyata berupa kerjasama operation recovery ini. Dan kalau diitung-itung, utang LIS ke Easlog sampai 2010 mencapai Rp 400 miliar. ”Jumlah utang yang cukup besar ini menjadi beban tersendiri bagi PT PWU Jatim,”tegasnya.
Hal senada juga diungkapkan Anggota Komisi C DPRD Jatim Suli Da’im. Menurut politisi asal PAN ini tidak menutup kemungkinan pemerintah melakukan adendum (tambahan pasal dalam perjanjian, red) atas kerjasama tersebut bila ditengarai sangat merugikan Pemprov Jatim dan Kabupaten Lamongan. Apalagi dari kenyataan yang ada, LIS hingga kini tidak mendapatkan keuntungan sama sekali, tapi sebaliknya justru merugi.
Padahal, lanjutnya suntikan dana dari APBD Jatim lewat PT PWU tidak sedikit. ”Jujur ini merupakan kesalahan masa lalu. Namun demikian kita tidak boleh menyerah dan harus melakukan terobosan guna menyelamatkan LIS dari kebangkrutan. Apalagi dewan melihat kerjasama ini penuh akal-akalan,”tegasnya.
Sekadar mengingatkan melalui PT Lamongan Integrated Shorebase (LIS), PT PWU Jatim dan Pemkab Lamongan bergabung untuk menyediakan fasilitas pelabuhan dan pergudangan yang menjadi kebutuhan vital perusahaan migas. Hal ini sebagai upaya untuk mendukung aktivitasnya di lapangan.
Dalam proyek pengerjaan, mereka menggandeng operator sekaligus investor asal Singapura, PT Eastern Logistic (Easlog). Proyek yang investasi keseluruhannya diperkirakan menghabiskan dana sekitar 50 juta dollar AS atau Rp 500 miliar itu menempati lahan seluas 100 hektare.
Lahan proyek itu dulunya adalah kawasan perbukitan kapur yang tandus. Hampir tak ada orang yang berpikir untuk memanfaatkan bukit tersebut. Kini lahan mati itu dirombak menjadi megaproyek yang sangat berpotensi menentukan masa depan Jatim.
”Dulu masih banyak orang menganggap mustahil bisa membangun pelabuhan di perbukitan kapur seperti ini. Kini kita bisa buktikan bahwa anggapan itu tidak benar,”tegas Dyah Erowati Vice President Marke0ting dan Business Development PT LIS.
Pembangunan proyek itu tidak bisa lepas dari keberanian investor Singapura PT Eastern Logistic. Saat iklim investasi sedang lesu-lesunya, mereka berani menginvestasikan dana yang tidak sedikit di Jatim.
President Commisioner PT Eastern Logistic David Lim juga menegaskan tentang keyakinannya mengenai keberhasilan megaproyek tersebut. Mengingat posisi Lamongan yang strategis dengan dikelilingi daerah yang berpotensi penghasil migas. [cty]








