DPRD Jatim, Bhirawa, 20 Juli 2011
Meski panitia tender proyek Umbulan sudah menentukan empat investor yang lolos dalam tender proyek prestisius senilai Rp 1,7 triliun dari 29 investor yang ada, namun Pemprov Jatim melalui Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) meminta dewan tidak berharap pada proyek ini untuk memberikan sumbangan ke Pemprov Jatim melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) Dedy Dalyadi mengatakan panitia tender telah menunjuk empat investor yang lolos verifikasi untuk melakukan proses selanjutnya, yakni lelang. Empat investor itu adalah konsorsium PT Medco dan Bangun Cipta, Marubeni , Nippon Koei. Selanjutnya PT Perkom Indah dan China Harbour. Investor ketiga Sound Global dan Manggala Purnama Sakti Amerta. Terakhir Bumi Capital, Bakrieland Development dan Beijing Water.
Ketetapan hasil pengumuman peserta yang lolos dalam prakualifikasi itu disampaikan secara resmi oleh BPPSPAM per 30 Juni 2011 kemarin dengan No.188/17/UMB/022/2011 tentang pengumuman hasil prakualifikasi lelang proyek kerja sama pemerintah swasta SPAM Umbulan pada 2011.
Lebih jauh Dedy berharap proses tender bisa cepat dilakukan, sehingga bisa tuntas dalam beberapa bulan ke depan. “Paling lambat pada Februari 2012 nanti sudah tuntas dan sudah bisa ditunjuk pemenangnya,” jelas Dedy saat hearing bersama Komisi C DPRD Jatim, Selasa (19/7).
Dedy berharap proyek yang sudah 10 tahun mangkrak tersebut bisa segera dikerjakan. Namun dia mengingatkan proyek ini jangan ditarget untuk menyumbang PAD. Ini karena proyek Umbulan lebih condong menjadi proyek sosial (social oriented), dibanding profit oriented. “Jadi jangan terlalu berharap dari proyek ini,” ujar dia.
Ia menjelaskan dalam proyek Umbulan nantinya air yang dibeli dari investor jauh lebih mahal dari pada yang dijual ke masyarakat, sehingga sulit untuk bisa mendapat keuntungan dari penjualan air tersebut.
Air yang dibeli dari pihak investor proyek ditetapkan senilai Rp 1.500 per m3, sementara harga jual air di wilayah Pasuruan di bawah Rp 1.000 per m3.
Sedang harga jual air di wilayah Surabaya dipatok di kisaran Rp 1.200 /m3. “Yang bisa diandalkan hanya selisih harga air di Sidoarjo dan Gresik,” jelasnya.
Meski tidak menjanjikan keuntungan, lanjut dia, pemerintah tetap harus memberi support terhadap realisasi proyek Umbulan. Karena tanpa support dari pemerintah, sulit baginya untuk meyakinkan pada investor untuk mengerjakan proyek yang sudah 10 tahun ditunggu masyarakat tersebut. “Tanpa support pemerintah, kita akui proyek itu sulit diwujudkan,” kata dia.
Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD Jatim Yusuf Rohana mengakui jika sejak awal dewan tidak berharap PDAB memberikan kontribusi ke Pemprov Jatim. Mengingat proyek Umbulan lebih mengarah pada misi sosial. Sehingga dewan memaklumi keinginan dari Dirut PDAB yang tak ingin dituntut untuk profit oriented.
”Kan sudah jelas di UU bahwa air dan tanah untuk kemasyarakatan umat perlu dilindungi. Begitu pula dengan proyek Umbulan ini, sejak awal harus dilindungi dengan tidak berharap mendapatkan keuntungan dari proyek ini,”tegas politikus asal PKS ini.
Sekadar mengingatkan proyek air bersih Umbulan seluas 4,9 hektare itu diperkirakan mampu memproduksi air bersih sebanyak 4.500-5.000 liter per detik dan bisa memenuhi kebutuhan lima kabupaten/kota, yakni Kabupaten/Kota Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik. [cty]








