Oleh: H.M. Syadid, Lc., M.H. (Sekretaris DPW PKS Jawa Timur)
Ada sebuah kelelahan yang nyata di tengah dunia demokrasi saat ini. Kepercayaan terhadap politik terus terkikis oleh tontonan drama kekuasaan, bukan substansi. Di berbagai belahan dunia, termasuk Nepal, sekelompok anak muda membuktikan bahwa perubahan bisa datang dari luar jalur konvensional—mereka menumbangkan pemerintahan yang korup hanya dengan bermodal komunitas digital dan semangat perlawanan. Kisah mereka adalah cermin dari kehausan kolektif akan sebuah perubahan yang otentik dan efektif.
Kisah itu membawa kita pada pemahaman kritis tentang kondisi politik kita. Ada sebuah konsep dari kritikus budaya Lauren Berlant yang disebut optimisme yang kejam (cruel optimism). Teori ini menjelaskan bahwa kita bisa saja terikat pada sebuah janji atau fantasi yang diyakini akan membawa kebahagiaan, namun pada kenyataannya justru menjadi penghalang bagi kebahagiaan itu sendiri.
Dalam konteks politik, optimisme yang kejam ini adalah keterikatan kita pada fantasi tentang sistem yang bersih dan pahlawan yang akan menyelesaikan semua masalah. Optimisme ini menjadi kejam karena menguras energi dan harapan kita melalui janji-janji yang tak pernah terpenuhi, membuat kita lelah tanpa melihat perubahan yang signifikan.
Mengakui realitas ini adalah langkah pertama. Di PKS Jawa Timur, kami tidak hanya menyadarinya, tetapi juga menjadikannya dasar untuk melakukan perbaikan internal sebagai respons konkret. Kami meyakini bahwa perubahan besar harus dimulai dari dalam. Sikap yang diperlukan adalah menjadi penggerak perubahan, menolak untuk terjebak dalam siklus yang sama.
Karena itu, PKS saat ini berfokus pada pendidikan politik yang mendalam dan kaderisasi anggota yang sistematis. Kami membangun pemahaman kritis di kalangan kader, tidak hanya tentang ideologi, tetapi juga tentang analisis kebijakan publik berbasis data, strategi komunikasi yang efektif, serta kemampuan advokasi yang teruji melalui pejabat publik PKS Jawa Timur.
Melalui kaderisasi, kami menciptakan jaringan individu yang terlatih untuk menjadi pemimpin di tingkat lokal, berintegrasi dengan masyarakat, dan mampu memecahkan masalah. Ini adalah langkah fundamental untuk membangun gerakan yang responsif dan efektif, yang tidak hanya mengandalkan figur sentral, tetapi juga kekuatan kolektif yang terstruktur. Pergerakan politik modern tidak lagi bisa bersembunyi di balik retorika; ia harus bergerak dengan cerdas, lincah, dan nyata, berlandaskan kader-kader yang berintegritas dan teredukasi.
PKS akan menempatkan diri di garis depan, tidak hanya di mimbar, tetapi juga di tengah masyarakat, mendengarkan dan mengorganisasi aspirasi. Gerakan ini akan menjadi suara yang konsisten melawan korupsi, mendorong perbaikan birokrasi, dan membangun peluang nyata bagi warga Jawa Timur. Ini bukan tentang mengejar jabatan, melainkan tentang membangun budaya politik yang lebih jujur dan produktif.
Di Jawa Timur, saatnya kita bergerak melampaui kelelahan. Saatnya membangun pergerakan yang mengubah fantasi menjadi realitas, dan janji menjadi aksi.{}









