Semi Final Lomba Baca Kitab Kuning (LBKK) PKS Jatim digelar di Museum NU Surabaya, Kamis, 2 Desember 2021. Tempat ini dianggap mewakili perjuangan para ulama yang turut memperjuangkan bangsa.
“Di Museum NU ini, tonggak perjuangan ulama untuk memperjuangkan bangsa Indonesia dan mencerdaskan masyarakat terkumpul jadi satu. Inilah alasan kami memilih tempat ini untuk Lomba Semi Final LBKK PKS Jatim,” jelas Imam Budi Utomo Sekretaris Bidang Pembangunan Keummatan dan Dakwah DPW PKS Jawa Timur.
Selain itu, ia mengatakan Museum NU adalah saksi bisu bagaimana para ulama memperjuangkan dan mempertahankan tradisi keilmuan dan literasi dari zaman ke zaman.

“Ini sama dengan semangat kami di PKS, Lomba Baca Kitab Kuning ini terus kami selenggarakan setiap tahunnya dalam rangka mengapresiasi dan melestarikan tradisi keilmuan dan literasi yang ada di pondok-pondok pesantren,” tegasnya.
Selain itu, ia menyampaikan, dengan datangnya ratusan santri pondok pesantren di tempat ini mudah-mudahan bisa mengabarkan ke saudara, teman atau kenalan yang lain tentang Museum NU dan bisa mengajaknya ke tempat ini.
“Semakin banyak ke Museum NU, mudah-mudahan masyarakat bisa terus menghargai perjuangan para ulama dan tentu saja meneladaninya,” pungas Imam.
Museum NU punya banyak koleksi benda-benda bersejarah yang pernah dipakai para kiai dan para pejuang Nadhiyin pada masa perjuangan pergerakan nasional dan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Mengutip dari bappeko.surabaya.go.id, Anda dapat melihat copy dokumen resolusi jihad NU yang berperan sangat penting dalam pertempuran 10 Nopember 1945.
Selain itu juga disimpan pula dokumen-dokumen sejarah pendirian jam’iyah NU, bahkan akta pendirian NU pada tanggal 31 januari 1926 juga ada di sini.
Museum ini juga menyimpan dokumen-dokumen surat-surat koperasi NU, Syirkatul Amaliah th 1918 dan surat balasan Raja Hijaz terhadap komite Hijaz yang sama-sama menjadi embrio berdirinya NU.
Museum NU menyajikan banyak sekali koleksi bersejarah. Salah satunya yang utama adalah potret dari tokoh-tokoh penting. Di lantai pertama yang penuh dengan foto pendiri NU. Kemudian ada juga area yang diberi nama Galeri Walisongo dengan berbagai info tambahan. Seperti tradisi, kebudayaan, pola keagamaan dan juga penyebaran Agama Islam.
Museum NU menyajikan banyak sekali koleksi bersejarah. Salah satunya yang utama adalah potret dari tokoh-tokoh penting.
Di lantai pertama yang penuh dengan foto pendiri NU. Kemudian ada juga area yang diberi nama Galeri Walisongo dengan berbagai info tambahan. Seperti tradisi, kebudayaan, pola keagamaan dan juga penyebaran Agama Islam.
Di lantai dua, museum ini menampilkan sejarah dalam bentuk dokumen dan karya ilmiah. Meliputi dokumen-dokumen organisasi NU, hasil-hasil penelitian dari berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri, serta karya-karya ilmiah mengenai NU, Ulama dan Pesantren.

Di salah satu sudut lantai 2 terdapat Kitab Taqrib yang berusia sekitar 200 tahun. Kitab ini dikarang oleh seorang tokoh bernama Kyai Muhammad yang berasal dari daerah Babat, Jawa Timur.
Selain itu, di bagian tengah ruangan terdapat Al-Quran raksasa yang usianya sudah ratusan tahun. Nah, kalau kalian ingin memotret benda-benda yang ada di sini, lebih baik tanyakan dulu kepada penjaga museum, ya. Ini dikarenakan ada beberapa koleksi yang tidak boleh diambil gambarnya.

Masih di lantai 2, ada beberapa koleksi unik lainnya yang bisa kalian lihat. Berupa benda-benda yang pernah dipakai para petinggi Nahdatul Ulama di masanya.
Salah satunya adalah sebuah sepeda angin yang merupakan sebuah saksi bisu perjuangan Kyai Mahfudz. Beliau menggunakan sepeda ini untuk menghadiri acara-acara NU tingkat Nasional dan juga lokal.

Koleksi bersejarah seperti keris pun juga turut dipamerkan di museum ini. Keris dipajang rapi di etalase kaca dan dilengkapi dengan beberapa info penting. Lalu, di bagian tengah pajangan keris, terdapat tongkat milik Mbah Wahab yang menarik perhatian. Bisa begitu, karena tongkat tersebut masih terjaga keasliannya walaupun usianya sudah sangat tua.{}









