oleh Hamy Wahjunianto
Sebelum 18 Juni 1946 tidak ada satupun negara di dunia ini yg mau mengakui kemerdekaan Indonesia walaupun sdh diproklamirkan pada tgl 17 Agustus 1945. Karena itu delegasi Indonesia tidak diperbolehkan memasuki sidang majelis umum PBB. Begitu mengetahui Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, pada tgl 16 Oktober 1945, dimotori oleh Syaikh Hasan Al Bana, para ulama & organisasi Islam di Timur Tengah mendirikan Panitia Pembela Indonesia. Sejak berdirinya PPI ini kaum Muslimin di Mesir sering melakukan demo besar-besaran agar pemerintah Mesir segera mengakui kemerdekaan Indonesia.
Sejak berdirinya PPI, Ikhwanul Muslimin mempersilahkan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yg sdg belajar di Al Azhar Kairo tuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran & majalah milik IM. Kaum Muslimin yg menjadi kelasi kapal Inggris bahkan melakukan pemogokan massal tuk menuntut pemerintah Inggris agar menghentikan bantuannya kpd pemerintah kolonial Belanda. Ketika terjadi pertempuran hebat di Surabaya pd tgl 10 November 1945, rakyat Mesir melakukan sholat ghoib di masjid-masjid di seantero Mesir. Puncaknya, atas desakan Ikhwanul Muslimin dan organisasi Islam lainnya, akhirnya raja Farouk, pemimpin Mesir saat itu mengirim utusan khusus tuk menyerahkan langsung surat pengakuan kemerdekaan Indonesia kepada Bung Karno di Jogjakarta yg menjadi ibukota RI saat itu..
Pada tgl 10 Juni 1947 Mesir meneguhkan pengakuan kedaulatan RI dg menandatangani Treaty of Friendship & Cordiality (Traktat Persaudaraan & Persahabatan). Hal ini menandai secara resmi dibukanya hubungan diplomatik antara Mesir & Indonesia. Semenjak ditandatanganinya Traktat Persaudaraan & Persahabatan ini, Ikhwanul Muslimin & umat Islam di Mesir semakin giat membantu pengakuan kedaulatan RI oleh dunia internasional. Bahkan saat terjadi Agresi Militer Belanda I pd tgl 21 Juli 1947, para buruh yg merupakan anggota Ikhwanul Muslimin dg heroik mengepung kapal Volendam milik Belanda di Port Said shg gagal mendapatkan suplai air minum. Pemerintah Mesir bahkan juga memberikan pinjaman lunak kepada pemerintah RI yg saat itu tidak mempunyai kas negara sama sekali..









