Momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 dimanfaatkan Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (Bipeka) DPW PKS Jawa Timur untuk mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat ketahanan keluarga sebagai benteng utama perlindungan anak.
Ketua Bipeka DPW PKS Jawa Timur, Nurul Arba’ati, menyampaikan keprihatinannya terhadap berbagai persoalan yang kini dihadapi anak-anak di Jawa Timur. Mulai dari meningkatnya kasus perundungan (bullying), hingga munculnya kasus HIV pada anak yang menjadi perhatian publik.
“Di Hari Anak Nasional ini, seharusnya anak-anak Jawa Timur hidup bahagia. Namun kenyataannya, kita masih dihadapkan pada anak-anak yang terpapar HIV, kasus bullying yang semakin marak, dan berbagai persoalan lain yang mengancam masa depan mereka,” ujar Nurul, Rabu (23/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alarm bahwa persoalan anak tidak bisa dipandang secara parsial. Salah satu akar masalah yang perlu mendapat perhatian adalah melemahnya ketahanan keluarga.
“Mungkinkah sebagian keluarga kita tidak memiliki tempat curhat? Sehingga anak-anak berusaha menyelesaikan persoalannya sendiri dengan cara mereka sendiri. Dua pertanyaan ini tidak boleh kita anggap remeh, karena lemahnya ketahanan keluarga bisa menjadi penyebab melemahnya ketahanan bangsa,” tegasnya.
Nurul menjelaskan, keluarga merupakan fondasi utama pembangunan masyarakat sekaligus tempat pertama pembentukan karakter, moral, dan kesehatan mental anak. Ketahanan keluarga tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi, tetapi juga kualitas komunikasi antaranggota keluarga, pola pengasuhan, keharmonisan suami istri, kemampuan menghadapi perkembangan teknologi, hingga penguatan nilai-nilai agama dan spiritualitas.
Ia menilai tantangan keluarga saat ini semakin kompleks. Tekanan ekonomi, meningkatnya biaya hidup dan pendidikan, persoalan pekerjaan, konflik rumah tangga, pola pengasuhan remaja, hingga penggunaan gawai yang tidak terkendali menjadi faktor yang saling berkaitan.
“Persoalan ekonomi sering menjadi pemicu berkurangnya kualitas interaksi dalam keluarga. Di sisi lain, penggunaan teknologi tanpa literasi digital dan kedekatan emosional justru memperlebar jarak komunikasi antara orang tua dan anak,” katanya.
Karena itu, Nurul menegaskan bahwa penguatan keluarga tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk semua keluarga. Menurutnya, setiap keluarga memiliki kebutuhan berbeda sesuai fase kehidupannya.
“Keluarga pra-sejahtera membutuhkan penguatan ekonomi. Keluarga muda membutuhkan pembekalan pernikahan dan parenting. Keluarga dengan anak remaja membutuhkan keterampilan komunikasi dan pendampingan. Sedangkan orang tua tunggal membutuhkan dukungan ekonomi, sosial, sekaligus pengasuhan,” jelasnya.
Ia mendorong agar penguatan keluarga dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yakni preventif melalui edukasi pra-nikah, sekolah keluarga, parenting, literasi keuangan, literasi digital, dan penguatan spiritualitas; pendekatan kuratif melalui layanan konsultasi dan pendampingan keluarga; serta pendekatan pemberdayaan melalui peningkatan kapasitas ekonomi keluarga.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, PKS Jawa Timur melalui Bipeka menghadirkan Rumah Keluarga Indonesia (RKI) yang menaungi berbagai program penguatan keluarga, seperti Sekolah Keluarga, layanan konsultasi Halo RKI, Forum Ayah, hingga Pos Pemberdayaan Ekonomi Keluarga (Pos PEK).
“Melalui Rumah Keluarga Indonesia, kami ingin menghadirkan ruang yang aman bagi keluarga untuk belajar, berkonsultasi, dan saling menguatkan. Kami berharap semakin banyak keluarga yang mampu menghadapi tantangan zaman sehingga anak-anak kita tumbuh sehat, bahagia, dan berkarakter,” ungkap Nurul.
Nurul mengajak pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi masyarakat, serta seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menjadikan penguatan keluarga sebagai agenda strategis dalam pembangunan.
“Mari kita jadikan Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni, tetapi momentum membangun keluarga yang lebih kuat. Karena ketika keluarga kokoh, anak-anak akan tumbuh terlindungi, dan dari sanalah masa depan Indonesia dibangun,” pungkasnya.
Di akhir pernyataannya, Nurul menyampaikan ucapan selamat Hari Anak Nasional 2026.
“Selamat Hari Anak Nasional 2026. Anak Terlindungi, Indonesia Maju.”









