Keprihatinan terhadap masih tingginya angka perceraian dan kasus HIV di Jawa Timur mendorong Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (Bipeka) DPW PKS Jawa Timur memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Salah satunya melalui silaturahmi ke Kantor Pimpinan Wilayah Wanita Islam (PWWI) Jawa Timur, Jumat (24/7/2026), sebagai langkah bersama membangun ketahanan keluarga sekaligus memperkuat peran perempuan dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.
Rombongan Bipeka DPW PKS Jawa Timur dipimpin Ketua Bipeka, Nurul Arba’ati, bersama jajaran pengurus baru. Mereka diterima langsung Ketua PWWI Jawa Timur, Prof. Dr. Nur Sayidah, M.Si., Ak., beserta jajaran pengurus.
Pertemuan berlangsung hangat dan penuh semangat kolaborasi. Selain menjadi ajang silaturahmi dan perkenalan kepengurusan baru, kedua organisasi juga berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang tengah dihadapi keluarga di Jawa Timur, mulai dari tingginya angka perceraian, meningkatnya kasus HIV, hingga pentingnya memperkuat posisi perempuan sebagai pilar utama dalam menjaga ketahanan keluarga.
Ketua Bipeka DPW PKS Jawa Timur, Nurul Arba’ati, mengatakan berbagai persoalan sosial tersebut tidak bisa diselesaikan secara parsial. Menurutnya, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat untuk menghadirkan solusi yang menyentuh akar persoalan.
“Angka perceraian yang masih tinggi dan meningkatnya kasus HIV harus menjadi alarm bagi kita semua. Persoalan ini bukan hanya persoalan kesehatan atau hukum semata, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas ketahanan keluarga. Karena itu, kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan penguatan keluarga sebagai gerakan bersama,” ujar Nurul.
Ia menilai perempuan memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun keluarga yang sehat, harmonis, dan tangguh. Karena itu, pemberdayaan perempuan harus berjalan seiring dengan penguatan kapasitas keluarga.
“Perempuan bukan hanya pendamping dalam keluarga, tetapi juga pendidik pertama bagi anak-anak dan penjaga nilai-nilai kehidupan. Ketika perempuan diberdayakan dan keluarga diperkuat, maka kita sedang membangun fondasi yang kokoh bagi masa depan Jawa Timur dan Indonesia,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Bipeka PKS Jatim dan PWWI juga membahas peluang mendorong lahirnya Peraturan Daerah (Perda) tentang Ketahanan Keluarga sebagai payung hukum yang dapat memperkuat berbagai program perlindungan, pendampingan, edukasi, hingga pemberdayaan keluarga di Jawa Timur.
Nurul berharap regulasi tersebut nantinya mampu memperkuat peran seluruh pemangku kepentingan dalam menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada keluarga.
“Kami berharap ke depan Jawa Timur memiliki regulasi yang mampu memperkuat ketahanan keluarga secara komprehensif. Perda Ketahanan Keluarga bukan sekadar dokumen hukum, tetapi menjadi arah kebijakan agar upaya pencegahan berbagai persoalan sosial dilakukan sejak dari lingkungan keluarga,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Wanita Islam Jawa Timur, Prof. Dr. Nur Sayidah, M.Si., Ak., mengapresiasi langkah PKS Jawa Timur yang menjadikan isu ketahanan keluarga sebagai perhatian utama.
Ia menegaskan, tantangan keluarga saat ini semakin kompleks sehingga memerlukan kolaborasi yang luas dan berkelanjutan.
“Terima kasih kepada PKS Jawa Timur yang terus konsisten memperjuangkan penguatan ketahanan keluarga. Mari kita bersama-sama membangun Indonesia dengan membangun ketahanan keluarga. Jika keluarga kuat, maka masyarakat akan kuat, dan bangsa pun akan semakin maju,” ujar Nur Sayidah.
Kedua pihak sepakat untuk membuka ruang kolaborasi dalam berbagai program edukasi keluarga, penguatan peran perempuan, pendampingan keluarga, hingga advokasi kebijakan yang mendukung terwujudnya keluarga Indonesia yang lebih berkualitas.
Bagi Bipeka PKS Jawa Timur, membangun ketahanan keluarga bukan sekadar menyelesaikan persoalan rumah tangga, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Dengan semangat kolaborasi bersama organisasi perempuan dan masyarakat, diharapkan berbagai persoalan sosial di Jawa Timur dapat dicegah sejak dari lingkungan keluarga.{}









